18.3.13

Mencari Wujud Jazz di Era Third Stream

Minggu, 17 Maret 2013

KlabKlassik akhirnya berjumpa untuk pertama kalinya di tahun 2013. Sebelumnya, KlabKlassik tampak fokus untuk menyiapkan konser Ririungan Gitar Bandung sehingga meliburkan dulu berbagai bentuk diskusi yang seyogianya diselenggarakan setiap Minggu sore pukul tiga. Sebagai pembuka tahun ini, KlabKlassik memulai Edisi Bincang-Bincang-nya dengan sebuah topik yang tidak mudah untuk dicerna: Jazz setelah post-bop.

Ismail Reza menjadi narasumber yang cukup antusias dalam menampilkan persoalan ini. Ia menyiapkan sejumlah playlist yang sangat menantang telinga dari peserta diskusi yang berjumlah lima belas orang. Sambil menyetel Caravan-nya Duke Ellington -kita bisa katakan lagu pembuka ini masih cukup bisa diterima telinga karena memang Mas Reza ingin membuai peserta terlebih dahulu-, ia membicarakan tentang periodisasi dalam musik jazz yang meski bisa didefinisikan, tapi tidak bisa seteratur musik klasik yang seolah linear. Post-Bop adalah era dimana jazz memasuki perdebatan tentang apakah rasa swing -ayunan khas jazz- itu harus tersurat atau tersirat pun tidak apa-apa. Mas Reza menyebut istilah swing yang tersirat itu sebagai "jazz in mindframe". Maksudnya, jazz itu cukup dengan apa yang dalam kepala kita disebut jazz. Tidak perlu didefinisikan dengan kata-kata.

Di era Post Bop ini, jazz mulai berani melangkahkan kakinya ke era yang disebut third stream. Suatu gelombang yang belum diketahui identitasnya setelah first stream (musik klasik) dan second stream (musik jazz). Tokoh-tokoh semacam John Coltrane, Miles Davis dan Charles Mingus sangat berperan dalam memberi fondasi bagi lahirnya berbagai macam jazz yang lebih eksperimental seperti free jazz dan the avant garde. Untuk melihat cikal bakal third stream ini, Reza secara rapi menyiapkan playlist berupa lagu Charles Mingus yang berjudul Black Saint & Sinner Lady, karya Alice Coltrane yang berjudul Galaxy in Turiya dan karya John Coltrane yang berjudul Stellar Regions. Lagu yang disebut terakhir sesungguhnya di luar playlist yang disiapkan Mas Reza, namun diputar atas permintaan Yuty yang penasaran bagaimana suami-istri John dan Alice Coltrane saling mempengaruhi dari segi ideologi musik.

Telinga peserta mulai "kacau" ketika Mas Reza sudah mulai masuk ke Ornette Coleman. Duetnya dengan Pat Metheny dalam lagu yang berjudul Song X, disebut Mas Reza menggunakan teori harmolodics. Harmolodics ini terdengar sangat bebas dan tidak memiliki acuan "gravitasi". Kata Yuty, "Memang musiknya tidak jatuh pada tonik sebagaimana umumnya." Dampak dari ketiadaan gravitasi ini sesungguhnya adalah kegelisahan pada diri setiap peserta. Umumnya, musik apapun seyogianya kembali ke tema semula atau setidaknya jatuh di "pusat"-nya. Namun Song X itu terus menerus seperti bersikap sengaja untuk tidak harmonis dan masing-masing baik Coleman maupun Metheny berdiri di permainannya sendiri tanpa memedulikan tonalitas.

Berikutnya, Mas Reza tanpa ampun menghantam telinga para peserta dengan karya-karya dari John Coltrane yang berjudul Meditation, John Zorn dengan dua lagu yang berjudul Dens of Sins/Demon Sanctuary dan Hue Di serta Curlew dengan judul Oklahoma. Di lagu-lagu terakhir ini, sulit bagi para peserta untuk menangkap sebelah mana sisi jazz-nya. Mas Reza tetap bersikukuh bahwa free jazz semacam ini beda dengan konsep kontemporer yang ditawarkan oleh para komposer semisal John Cage atau Philip Glass. Meski Yuty mengakui bahwa John Zorn sesungguhnya diakui di dua dunia tersebut (kontemporer dan free jazz). Melihat suasana yang sudah semakin muram, Mas Reza kemudian memutar lagu yang menurutnya berfungsi sebagai detoksifikasi. "Ini karya populer judulnya New York New York," ujarnya mengacu pada lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra. Ternyata, New York New York yang dimainkan oleh Django Bates ini sangat jauh dari aslinya. Eksperimentatif, liar, dan sama sekali tidak membuat efek detoksifikasi. 

Dua anak dari jurusan musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bernama Ayu dan Putri mengungkapkan secara kompak bahwa meski mereka sulit untuk mencerna lagu-lagu yang dibawakan Mas Reza, namun mereka merasa wawasannya jauh bertambah. Rahardianto yang diplot sebagai narasumber kedua -namun karena hadir menjelang diskusi selesai, ia jadi tidak banyak bicara- mengatakan bahwa mendengarkan musik semacam ini akan meningkatkan kepekaan estetis sehingga dapat mencerna lebih banyak musik lagi. Yuty bahkan memberi saran bagi mereka yang sulit untuk menerima musik-musik "aneh", "Tambah lagi ya dosis mendengarkannya setiap hari!" ujarnya sambil disambut tawa para hadirin.

Daftar lagu yang diputar (musisi - album - komposisi):
Charles Mingus - Black Saint & Sinner Lady - Duet Solo Dancers
Alice Coltrane - World Galaxy - Galaxy in Turiya
John Coltrane - Stellar Regions - Stellar Regions
Ornette Coleman - Skies of America - The Artist in America
Pat Metheny & Ornette Coleman - Song X - Song X
John Coltrane - Meditation - The Father and The Son and The Holy Ghost
Naked City - Naked City - Dens of Sins/Demon Sanctuary
John Zorn - New Traditions in East Asian Bar Bands - Hue Di
Curlew - North America - Oklahoma
Django Bates - Winter Truce (and Home Blazes) - New York New York
Sun Ra - Atlantis - Atlantis (excerpt)



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin