11.3.13

Peluncuran Buku Satu Masa di CIelo

Sabtu, 9 Maret 2013

Sabtu siang itu beranda Tobucil terlihat sedang mempersiapkan sesuatu. Bangku-bangku ditata ulang, meja-meja dipindahkan untuk menjadi alas bagi beberapa tupperware yang bermuatan coklat. Di atas meja juga dibeberkan sejumlah kaos dan bertumpuk-tumpuk cetakan perdana dari buku karya Nugraha Sugiarta berjudul Satu Masa di Cielo

Memadati beranda sambil mengonsumsi coklat. Foto oleh Desiyanti Wirabrata.   
Nugraha Sugiarta -yang akrab dipanggil Nunu- memang tengah meluncurkan buku debutnya yang berisikan kumpulan cerpen. Cerpen-cerpen tersebut -yang jumlahnya ada sepuluh- semuanya punya hubungan dengan coklat dan diceritakan dari berbagai sudut pandang. Misalnya, ada sudut pandang penikmat coklat, petani coklat, pemilik kebun coklat, bahkan hingga si coklat itu sendiri! Hal tersebut mengundang pertanyaan di acara launching kemarin, "Mengapa mengangkat tema coklat?" Nunu lantas menjawab, "Awal mulanya sih sederhana, karena pacar saya kerja di pabrik coklat. Selain itu, sepertinya tema tentang coklat ini belum pernah diangkat sama sekali. Secara filosofinya, saya rasa coklat kerapkali menjadi simbol cinta dan segala sesuatu yang manis tapi ia tidak pernah dibahas ketika di saat patah hati atau segala kepahitan." Nunu kemudian menambahkan bahwa coklat dalam buku Satu Masa di Cielo ini diceritakan hubungannya dengan kisah-kisah pahit alih-alih manis seperti biasanya.

Acara peluncuran buku tersebut berlangsung cukup lancar, meriah, dan menarik minat banyak pengunjung. Nunu sepertinya sudah sangat matang dalam melakukan persiapan mulai dari acara pembagian coklat gratis, urutan penampil, bincang-bincang, hingga pembagian hadiah. Sejumlah pengisi acara tampil apik seperti Deu Galih, Tetangga Pak Gesang dan Theoresia Rumthe yang membacakan salah satu cerpen dari Nunu yang berjudul Mengejar Coklat.

Theoresia Rumthe membaca cerita yang berjudul Mengejar Coklat. Foto oleh Permata Andhika Rahardja.
Nunu juga menjelaskan tentang proses lay-out dan editing hingga alasan mengapa ia memilih jalur indie untuk penerbitannya. Tentang proses produksi, Nunu memaparkan tentang pentingnya relasi. Ia mendahulukan sanak saudaranya sendiri yang berpotensi untuk menggarap buku Satu Masa di Cielo ini. Dengan polos Nunu menjawab, "Ya, dengan kita memanfaatkan saudara, kita bisa menekan banyak ongkos produksi," katanya merujuk pada pengilustrasian dan penyuntingan yang dikerjakan oleh saudara sepupu dan kakak kandungnya sendiri. Nunu juga mengakui bahwa meskipun bukunya yang kali ini digarap dalam format indie, tapi ia juga tidak menampik jika kemudian ada penerbit mayor yang tertarik untuk menerbitkan. Dengan catatan, "Ya, asal tidak mereduksi konsep-konsep awalnya," ujar orang yang bekerja sebagai dosen sekaligus kontributor tobucil handmade ini.

Syarif Maulana

Nugraha Sugiarta alias Nunu. Foto oleh Permata Andhika Rahardja.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin