3.3.13

Pemutaran Film Dokumenter 'Di Balik Frekuensi'


Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung dan Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk hadir pada acara pemutaran film dokumenter dan diskusi 'Di Balik Frekuensi'
Kamis, 7 Maret 2013
di Tobucil & Klabs  Jl. Aceh No. 56 Bandung
Pk. 18.30

Diskusi bersama:
Zaky Yamani (Ketua AJI Bandung)
Ucu Agustin (sutradara)
Ursula Tumiwa (Produser)
Luviana (tokoh dalam film)



Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

-----




“Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi!”
“Media Mengabdi Publik, Bukan Menghamba Pada Pemilik”


Mengambil isu yang jarang dibicarakan di dunia perfilman Indonesia, sutradara Ucu Agustin membuka tahun 2013 dengan  “DI BALIK FREKUENSI”, sebuah film dokumenter panjang pertama di Indonesia yang berbicara tentang media, khususnya media televisi yang menggunakan sarana frekuensi.

Berkolaborasi dengan produser Ursula Tumiwa yang sebelumnya dikenal melalui film ‘Generasi Biru’ dan ‘Metamorfoblous’, Ucu yang selama ini diketahui publik selalu konsisten mengarahkan film-film dokumenter Indonesia berkualitas yang mengambil isu yang cukup sulit seperti ‘Ragat’e Anak’ dalam kumpulan Antologi AT STAKE (tentang pekerja seks di gunung Bolo, Tulungagung) dan ‘Konspirasi Hening’ (mengenai malprakrek di dunia kedokteran di Indonesia) kali ini bukan hanya bertindak sebagai sutradara tetapi juga bersama Ursula bergandengan sebagai produser dan membawa publik untuk mengenali hak-haknya sebagai warga negara yang mutlak memiliki hak atas informasi.

Di Balik Frekuensi  adalah sebuah feature documentary yang  bercerita tentang bagaimana frekuensi publik saat ini digunakan oleh pemilik media untuk kepentingan politik dan bisnisnya yang jauh dari kepentingan yang berkenaan dengan publik. Melalui kisah Luviana jurnalis Metro TV yang di PHK-kan  serta kisah Hari Suwandi dan  Harto Wiyono dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, film ini akan mengajak kita menelusuri sebagian kecil dari sekian banyak cerita di balik frekuensi  dan di balik kerja media di Indonesia setelah reformasi berjalan lebih dari 14 tahun.

Dengan mengambil dua tagline Hentikan Monopoli, Kembalikan Frekuensi! Serta Media Mengabdi Publik, Bukan Menghamba Pada PemilikDi Balik Frekuensi ingin mengajak  para pekerja media, pelaku bisnis di industri media juga pemangku kepentingan di bidang media di Indonesia untuk bersama mengembalikan lagi fitrah media pada haluan yang sesungguhnya : ada untuk kepentingan warga.

Di Balik Frekuensi adalah sebuah project  yang merupakan bagian dari project CIPTA MEDIA BERSAMAsebuah inisiatif  kolobarasi dari organisasi non profit Wikimedia, ICT Watch!, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didukung sepenuhnya oleh Ford Foundation, dan memiliki tujuan untuk membuat media di Indonesia lebih baik di masa-masa yang akan datang.

Film ini mulai diproduksi pada 15 Desember 2011 dan pengambilan gambar terus dilakukan sampai 25 November 2012. Lokasi pengambilan gambar dilakukan di: Jakarta, Bandung, Indramayu, Malang, dan Porong-Sidoarjo. Menghasilkan lebih dari 330 jam stock gambar.

 Untuk keterangan pers lebih lanjut hubungi:
Email: behindthefrequencyfilm@gmail.com

----

Sinopsis

Setelah reformasi, dengan cepat konglomerasi menjadi corak industri media di Indonesia. Pola tersebut terus berkembang dan seolah dilanggengkan dengan dijadikannya sistem itu sebagai pegangan oleh para pelaku usaha media yang menjalankan operasional industri media di Indonesia.

Ribuan media dengan aneka format baik cetak, online, radio, televisi, yang informasinya diserap 250 juta penduduk Indonesia, hanya dikendalikan oleh 12 group media.  Tiap pemilik group ini memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan kerap terang-terangan membanjiri publik dengan berita dan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang banyak me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik.

Luviana adalah  seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK-kan karena mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan ia juga mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan demi tekad untuk  mencari keadilan bagi warga korban Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi. 

Melalui dua kisah tersebut, film dokumenter ini akan membawa kita pada perjalanan Di Balik Frekuensi yang menuntun kita akan sebuah pencarian terhadap makna 'apa itu media'? Seperti apakah seharusnya media bekerja? Untuk siapakah mereka ada? 


Catatan Sutradara:

‘Pers dulu dibungkam, pers sekarang dibeli’, benarkah itu yang tengah terjadi di dunia media kita di era konglomerasi media pasca reformasi 14 tahun silam?

Ada apa dengan TV berita kita? Itulah pertanyaan awal yang datang saat mengcapture semua peristiwa yang berkenaan dengan kasus Luviana dan Hari Suwandi – Harto Wiyono yang ada dalam cerita Di Balik Frekuensi.  Luviana berhadapan dengan televisi berita pertama  yang ada di Indonesia, Metro TV. Hari Suwandi dan Harto Wiyono berhadapan dengan televisi berita yang dulu salah satu taglinenya adalah: terdepan Mengabarkan, TV One. Kedua televisi tersebut bersiaran secara nasional dan jelas-jelas mereka menggunakan frekuensi publik untuk sarana siarnya.

Pertanyaan di atas itu lalu bersambung dengan pertanyaan lanjutan yang datang susul menyusul seiring dengan peristiwa yang terus terjadi dan harus diikuti untuk diambil gambarnya demi kepentingan produksi: ada apa dengan media kita di Indonesia setelah era Soeharto usai? Capek-capek dulu memperjuangkan kebebasan pers, untuk inikah semua perjuangan tersebut akhirnya? Sebuah konglomerasi media dimana media-media yang dimiliki oleh seorang pengusaha media  tak lebih hanya dijadikan kanal untuk saluran kepentingan sang pemilik.

Siapa saja pemilik media  di Indonesia kini ada dan apa  interest politik juga kepentingan bisnis mereka? Bagaimana nasib para jurnalis dan pekerja medianya? Bagaimana para jurnalis tersebut bersikap terhadap kepentingan-kepentingan yang menyaru dalam berita yang harus mereka liput? Siapa yang paling dirugikan dengan pemberitaan yang begitu bertubi tapi tak ditujukan untuk kepentingan informasi yang mencerahkan tapi justru memalsukan realita untuk kepentingan pemilik media? Siapa korban langsung sesungghunya dari pemberitaan-pemberitaan yang demikian?

Pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan ini begitu sering dipercakapkan di kalangan media, tapi tidak dibicarakan secara terbuka di ruang public. Untuk itulah Di Balik Frekuensi ada dan bercerita.. ***


Catatan Produksi

Penulis & Sutradara Ucu Agustin
Produser Ursula TumiwaUcu Agustin
Kamera Affan DiazDarwin Nugraha
Editor Darwin Nugraha
Editor Online Juan Mayo
Musik Frans Martatko Filman
Penata Suara Dono Firman
Animasi  & Desain Graphis Affan Diaz, Erickson Siregar
Line Produser Sidik Ilmawan
Manajer  Produksi Bince Mulyono
Kamera Tambahan Harto Wiyono, Nizar Davian Revata, Ipunk Purwono, Dana Putra, Ucu Agustin, Feri Latief
Format  Pengambilan Gambar HD
Format Pemutaran M2T, Mpeg2, HD
Produser Eksekutif Ucu Agustin, Ursula Tumiwa
Diproduksi  oleh Gambar Bergerak
Durasi 144 Menit 27 Detik


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin