8.4.13

Klab Filsafat Tobucil: Fenomenologi


Senin, 8 April 2013

Klab Filsafat Tobucil kembali berkumpul sore itu. Kali ini yang menjadi topik pembahasan adalah suatu metode dalam filsafat dan ilmu pengetahuan yang cukup menjadi tren di awal abad ke-20 yakni fenomenologi.

 
Permulaan diskusi dibuka dengan memaparkan tentang sejarah maupun definisi dari fenomenologi itu sendiri. Sebelum adanya fenomenologi, dunia filsafat dan ilmu pengetahuan di Barat didominasi oleh cara berpikir ala Rene Descartes yang menitikberatkan pada "aku yang berpikir". Meski berpengaruh besar pada banyak kemajuan saintifik, namun cara berpikir Cartesian ini menjauhkan manusia dari kedekatannya pada hal-hal yang lebih personal dan keseharian. Maka itu Edmund Husserl menawarkan satu cara berpikir yang baru, yakni kembali pada fenomena. Kembali pada fenomena berarti juga menunda asumsi kita terhadap sesuatu dan menghayati sesuatu itu sebagaimana adanya ia.

Pemikiran tentang fenomenologi ini mengundang ketertarikan sehingga diskusi berjalan cukup lancar. Pak Wellen -sejalan dengan Rio- mempertanyakan bagaimana fenomenologi itu bisa dijadikan pegangan jika hasilnya adalah pengamatan subjektif saja. "Justru, pengalaman subjektif ini akan membuat ilmu pengetahuan menjadi semakin terpilah-pilah dan gagal menemukan kesatuannya," ujarnya. Pertama, Husserl, untuk menjawab pertanyaan semacam itu, menawarkan suatu metode bernama intersubjektivitas. Artinya, seorang peneliti fenomenologi, dia harus sedemikian dekat dengan yang diteliti sehingga ia bisa "menjadi" seseorang yang diteliti itu. Kedua, penghayatan personal yang plural ini pada akhirnya mesti diterima sebagai suatu kenyataan. Memang pada akhirnya, sebuah penelitian fenomenologi bertujuan mencari kekayaan pemaknaan, bukan suatu pembuktian tunggal ala positivisme.

Kape kemudian sedikit banyak setuju dengan gaya berpikir fenomenologi ini karena kenyataan bahwa dalam pekerjaannya yang banyak bergelut dengan statistik, ia menyimpulkan bahwa unsur-unsur subjektif tetap terlibat dalam membuat penilaian akhir. Kape juga merujuk pada teorema Godel yang menyebutkan bahwa semakin sempurna suatu model, malah ia menjadi semakin tidak sempurna dalam menjawab persoalan realitas. Ini adalah semacam kritik baik bagi pendekatan positivisme dan fenomenologi sekaligus. Keduanya, jika ditelaah, mengandung paradoks. Positivisme mencoba menjawab seluruh persoalan alam semesta dengan cita-cita bombastis -yang dicetuskan oleh Lingkaran Wina- bernama unified science. Faktanya, semakin kemari ilmu pengetahuan malah semakin berdiri sendiri-sendiri dan cita-cita semacam itu semakin jauh dari kata tercapai. Sedangkan fenomenologi, ia berupaya untuk menerima pluralitas keseharian, tapi dengan demikian ia juga memutlakkan dirinya sebagai suatu metoda yang "sahih" dan rigid sebagaimana positivisme.




Google Twitter FaceBook

2 comments:

vina devina said...

wah wah diskusinya sangat seru ya

Biddut Debnath said...

Hello sir, I got you by Google search.

It is very well information about. All people always want to know all about things that you have been described. It is very valuable & very nice posting! I will bookmark this blog as I have Boca raton web design is the process or technique to promote the websites of Florida specially in the local market and also in the rest of world through different search engines like Google, MSN, Yahoo etc. The main target will be to get traffic to these sites. It will always be better if you get the maximum traffic from the local market itself i.e. US itself. Thus Website marketing strategies are the fruitful way to bring more and more customers.

Thanks For Very Interesting Post

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin