1.4.13

Klab Filsafat Tobucil: Kopi


Senin, 1 April 2013

Per bulan April ini, Klab Filsafat Tobucil (KFT) memublikasikan topiknya yang sudah disusun untuk diskusi sebulan penuh. Minggu pertama di bulan April ini Dian Mayangsari alias Mayang mendapat kesempatan mengemukakan masalah tentang kopi.

Agenda bulan April Klab Filsafat Tobucil.
Mayang memulai dengan bercerita tentang pengalamannya bekerja di dua tempat yang salah satu tugasnya adalah membuat kopi, yaitu di Tobucil dan Potluck. Di Tobucil, Mayang lama-lama hafal pesanan dari masing-masing orang yang rajin nongkrong. "Mas Daus dan Diecky misalnya," kata Mayang, "Selalu minta kopi aroma Robusta yang pekat. Diecky secara spesifik minta tiga sendok." Ternyata hal ini juga berlaku bagi kopi sachet. "Ping secara spesifik sering minta airnya tiga perempat gelas," ujar Mayang. Kemudian ia melanjutkan ceritanya ke Potluck dimana kopi di tempat tersebut dijual dalam banyak varian. Mayang bercerita bahwa anak muda rata-rata lebih suka kopi dengan rasa yang lebih soft seperti penggunaan krim ataupun susu. Sedangkan rata-rata orang yang lebih tua, yang secara spesifik Mayang mengatakan sebagai, "Yang biasa datang ke acara blues atau jazz," katanya rata-rata memesan kopi hitam. 

Sebelum berdiskusi lebih mendalam, forum terlebih dahulu dibanjiri informasi menarik seputar kopi yang datang dari Mayang dan akhirnya ditopang juga oleh Arul -yang sepertinya cukup mengamati soal kopi-. Kopi, kata Arul, secara umum dibagi dua yakni mocha-arabica dan robusta. Karakter mocha-arabica biasanya ada rasa asam setelah diminum. Kalau robusta, dia lebih pahit dan punya efek kuat. Robusta bahkan, tambah Arul, jika digarap dengan benar justru dapat menjadi obat. Kemampuan robusta untuk memacu jantung menjadi lebih aktif dapat mengobati sejumlah penyakit. Di Indonesia,yang beredar banyak justru mocha-arabica (yang malah disukai di Barat sana), meski selera umum orang Indonesia mungkin lebih cocok dengan karakter robusta.

Soal fungsi kopi sendiri, yang diyakini banyak orang sebagai minuman untuk membantu terjaga, ternyata tidak semua peserta KFT setuju. Mayang merasa kopi tidak berpengaruh apa-apa dalam membuang rasa ingin tidur. Rachmat bahkan menggunakan kopi sebagai alat bantu untuk buang air sehingga lancar. Bang Iqbal mencari jalan tengahnya. Ia mengatakan, "Bisa saja orang tetap tidur dengan kopi, tapi yang saya yakini ia saraf-sarafnya tetap cukup aktif sehingga masih peka terhadap situasi." Bang Iqbal juga mengatakan bahwa pengalamannya meminum kopi menjelang tidur membuat suara langkah kaki ibu kost terdengar seperti sepasukan Mordor dari film Lord of The Rings!

Kopi juga, lanjut Bang Iqbal, oleh sebab karakternya yang kuat dan diminumnya seteguk demi seteguk, lebih cocok untuk menemani berkumpul -Bang Iqbal bahkan meneruskan bahwa gara-gara kopi, revolusi Prancis bergulir-. "Tidak mungkin revolusi terjadi karena jus buah, misalnya," ujarnya yang disambut tawa dari forum. Bang Iqbal juga menekankan bahwa kopi barangkali merupakan satu-satunya minuman yang prosesnya dibakar. "Jadi wajar jika revolusi datang dari kopi, karena ada unsur api disana," katanya. Wajar kata Bang Iqbal jika kopi masuk dalam urutan teratas minuman pengubah dunia.

Yunita kemudian mengemukakan fakta tentang kopi yang pernah mendapat halangan politis ketika masuk ke Eropa. Paus Clement VIII di tahun 1600-an sempat membid'ah-kan kopi karena dianggap minuman orang-orang kafir (Muslim). Keberadaan kopi juga dikhawatirkan menggantikan anggur yang sudah dianggap sebagai minuman suci di kalangan Kristen. Konon kopi akhirnya diterima karena Paus sendiri mencicipi dan rasanya dianggap enak. 

Berikutnya, Irwan mengajak untuk membahas apakah pemahaman akan estetika kopi itu dikonstruksi atau memang ada? Maksudnya, kita mengetahui banyak sekali diantara mereka yang meneliti kopi dan menjadi ahli tentangnya. Tapi mengapa kopi? Mengapa tidak ada yang sungguh-sungguh memaknai susu atau jus buah misalnya? Ini sama halnya dengan bagaimana orang mendalami tentang bir ataupun anggur. Kang Arden punya pertanyaan lanjutan, "Apakah eksotisme kopi itu ada setelah kehadiran Barat, atau sebelumnya orang-orang Timur yang tinggal di iklim tropis sudah menyadarinya?" Pertanyaan itu datang karena dipicu kenyataan bahwa istilah-istilah kopi yang terbentang di pasaran adalah istilah yang banyak diadopsi dari bahasa Italia seperti capuccino, moccacino, espresso, ataupun americano. Secara gaya hidup, kita merasa lebih eksotis jika minum capuccino ketimbang kopi tubruk misalnya.


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat pembahasan menyusup ke hal-hal yang lebih mendalam seperti hubungan kopi dan kekuasaan. Beberapa orang seperti Arul ataupun Mayang yang merupakan penyuka kopi, percaya bahwa tanpa kekuasaan, kopi dalam dirinya sendiri memang sudah
punya nilai. Hal ini bertentangan dengan Irwan ataupun Kape yang sedikit banyak meyakini bahwa campur tangan kekuasaan untuk "mengangkat derajat kopi" sebenarnya cukup krusial. Soal ini Kang Arden punya jalan tengahnya. "Bagaimana kekuasaan Barat mengangkat derajat kopi memang tidak bisa kita abaikan. Tapi kopi mungkin bisa kita anggap sebagai minuman yang membuat kita betah berlama-lama untuk menjadikannya teman mengobrol. Karena tidak bisa tidak, kita meminum kopi pasti seteguk demi seteguk (tidak mungkin sekaligus). Itu barangkali yang menyebabkannya punya nilai: jeda ketika menikmatinya." 

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin