23.4.13

Klab Filsafat Tobucil: Ulang Tahun

Senin, 22 April 2013

Sore itu, karena hujan lebat yang mengguyur Kota Bandung, Klab Filsafat Tobucil sepi peminat. Padahal, Irwan Syah selaku pemasalah sudah cukup menyiapkan bahan yang hendak didiskusikan. Sehubungan dengan dua hari menjelang ulang tahunnya, ia memutuskan untuk memasalahkan tema mengenai ulang tahun. Satu per satu peserta berdatangan seiring dengan hujan yang mereda.

Cikal bakal ulang tahun, kata Irwan, barangkali ditengarai oleh bagaimana manusia menandai berbagai kejadian demi kejadian dalam pertumbuhan seorang manusia (misal: kelahiran, akil balig, pernikahan, dsb). Lebih jauh lagi, Irwan menalar bahwa ulang tahun tidak mungkin ada sebelum manusia memiliki kalender. Artinya: Ulang tahun adalah buah dari kesadaran manusia setelah mereka menemukan sistem penanggalan. Irwan kemudian beberapa kali membuka catatan kecilnya sebelum melanjutkan paparan, lanjutnya, "Mungkin saja ulang tahun diawali dari kebiasaan raja-raja pada kelahiran anak untuk kemudian dihubungkan dengan horoskop sebagai bentuk penerawangan bagaimana masa depan kerajaan di tangan si anak. Kebiasaan raja-raja tersebut kemudian lambat laun diadaptasi juga oleh rakyatnya."

Apa yang dimaksud dengan "ulang tahun" pun, lanjut Irwan, penandanya berbeda-beda tergantung kebudayaan masing-masing. Umumnya dari kita mungkin merayakan ulang tahun berdasarkan hari dimana kita dilahirkan. Namun ada juga, papar Irwan, ulang tahun yang dirayakan berdasarkan nameday atau hari dimana kita diberi nama. Arden menambahkan, "Ada juga ulang tahun yang dihitung mulai dari sperma membuahi sel telur." Pembahasan Irwan kemudian meluas menjadi menyentuh tentang waktu. Irwan mengutip Seneca yang berpikir bahwa waktu sesungguhnya bukanlah sebuah porsi, jarak, atau kuantitas yang benar-benar bisa diukur dan dipanjangkan. "Waktu lebih merupakan hadiah karena sebagaimana eksistensi manusia, ia tidak bisa dibicarakan atau diminta persetujuannya. Waktu bersifat absolut," ujar Irwan.

Kemudian pembahasan pada mulanya berkaitan dengan pengalaman ulang tahun masing-masing. Rudy bercerita bahwa ulang tahun menjadi tidak dirayakan lagi setelah orangtuanya menyatakan bahwa ia sudah besar. "Kata orangtua saya, karena saya sudah besar, cukup diberi doa saja," ujar Rudy. Kemudian Rudy memaknai bahwa ulang tahun adalah semacam penanda eksistensi. Aku ulang tahun maka itu aku ada. Ranti, seorang peserta yang mengikuti Klab Filsafat Tobucil untuk pertama kalinya, menyatakan bahwa momen-momen perenungannya tidak selalu datang ketika ulang tahun. Justru ia lebih memilih momen-momen mendefinisikan diri itu datang di saat yang dibutuhkan, tidak harus ketika ulang tahun. Irwan kemudian menimpali lagi bahwa ulang tahun, berkaitan dengan waktu, adalah bentuk dari kecenderungan manusia untuk mengontrol waktu. "Waktu dikontrol lewat ulang tahun karena ketakutan manusia akan ketidakpastian," ujar Irwan.

Arden menyebutkan bahwa manusia memang membutuhkan batu-batu penanda untuk mengetahui apa yang "bukan" dari penanda tersebut. Maksudnya, ulang tahun hadir sebagai momen untuk mengingat masa-masa ketika tidak sedang ulang tahun. Sertifikasi musik misalnya, ditujukan untuk mengingat proses-proses menuju perolehan sertifikasi tersebut. Jadi perhentian selalu menjadi kecenderungan manusia agar mereka mampu mengingat proses. Ulang tahun juga dapat dicurigai sebagai upaya manusia untuk melupakan kenyataan bahwa dirinya adalah apa yang disebut Heidegger sebagai being-toward-death atau ada-menuju-kematian. "Setiap manusia," kata Heidegger, "punya kecemasan absolut mengenai kematiannya. Namun ada yang menerima ada juga yang melupakannya dengan berbagai cara." Namun, tutup Irwan, ia merasa bahwa ulang tahun tidak ada masalah jika kemudian dirayakan. "Mungkin ini adalah bentuk dari bagaimana perayaan manusia bahwa ia sesungguhnya masih sanggup bertahan hidup di dunia," tutupnya.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin