30.4.13

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Membahas Kemurungan Travis Bickle


Senin, 29 April 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu kembali bertandang ke IFI-Bandung untuk menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh LayarKita. Kali ini film yang diputar oleh LayarKita adalah sebuah karya Martin Scorsese tahun 1976 yakni Taxi Driver


Film yang dibintangi Robert de Niro tersebut berkisah tentang seorang supir taksi bernama Travis Bickle. Travis adalah veteran perang Vietnam yang mengalami kesepian ketika ia kembali ke masyarakat. Sebagai supir taksi, selain kesepian, ia juga mengalami kegelisahan mengenai lingkungan sekitar yang begitu diwarnai keburukan-keburukan. Setiap malam jika ia sedang bekerja, ia begitu jijik melihat pelacur, pemadat, dan penjahat di sepanjang jalan. Travis tidak ingin tinggal diam, ia kemudian membeli senjata dan berusaha menyelamatkan seorang pelacur di bawah umur bernama Iris (diperankan sangat baik oleh Jodie Foster).

Diskusi kemudian berjalan cukup seru karena nyaris setiap peserta yang berjumlah sekitar lima belas orang mengemukakan pendapatnya. Misalnya, Pak Moko, sebagai orang yang sudah tinggal di Amerika selama tiga puluh tahun, menyatakan bahwa post-war traumatic itu adalah sesuatu yang memang lumrah bagi para veteran perang. Mereka tidak sedikit yang terjerumus menjadi peminum berat, pemakai obat, dan tak jarang mengalami kegilaan. Apa yang dialami Travis, kata Irwan, adalah juga semacam sindrom vigilante -sebuah perasaan bahwa seseorang mesti menjadi pahlawan untuk lingkungannya dengan terlebih dahulu menyadari bahwa ada ketimpangan hukum-. Pak Moko setuju dengan pernyataan Irwan tersebut. Bahkan lebih jauh ia menyatakan bahwa sebenarnya dalam diri setiap orang selalu ada keinginan terselubung untuk menjadi seorang pahlawan. Salah seorang peserta kemudian berpendapat bahwa Travis melakukan kegiatan heroik atas dasar, "he wants to be somebody."

Ping kemudian melihat aksi-aksi Travis dalam film tersebut -terutama ketika upaya pembunuhannya pada senator Charles Palantine- adalah efek samping dari kasih tak sampainya pada Betsy. Kata Ping, ketika Travis jatuh cinta pada Betsy, ia menganggap apapun yang berkaitan dengan perempuan tersebut adalah hal baik. Sebaliknya, ketika cintanya ditolak, Travis membenci segala hal yang berkaitan dengan Betsy, termasuk senator yang didukungnya, Charles Palantine. Margaretha bahkan menganalisis lebih jauh bahwa ia mencurigai bahwa Charles Palantine adalah seorang calon presiden dari Partai Republik. Ketika mengetahui bahwa sang sutradara Taxi Driver adalah Martin Scorsese yang kemungkinan seorang Demokrat -kesimpulan ini ditarik Margaretha dari latar belakang Scorsese yang merupakan Yahudi-Italia- mungkin saja film ini bermuatan politik sekaligus juga sebuah kritik terhadap legalitas kepemilikan senjata di AS.

Diskusi ini ditutup dengan ungkapan senang dari Tobing (pengurus LayarKita) yang katanya, "Film itu tidak penting pesan moral ataupun inspiratif tidaknya, yang penting sebuah film bisa didiskusikan secara mendalam, itu berarti filmnya punya kualitas." Memang iya, diskusi pasca-film berlangsung lebih dari dua jam dan hampir tidak terasa. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin