7.5.13

Klab Filsafat Tobucil: Masa Tua

Senin, 7 Mei 2013

Setelah berulangkali mengalami penundaan, topik Masa Tua akhirnya tersaji juga di Klab Filsafat Tobucil. Ping Setiadi, meski nyaris tidak pernah absen di setiap pertemuannya, namun ini adalah kali pertama ia menjadi pemasalah dalam satu setengah tahun terakhir sejak Klab Filsafat Tobucil berdiri. Seperti halnya Irwan di perjumpaan sebelumnya, Ping juga membawa catatan hasil tulisan tangan sebagai pegangan.

Pemaparan awal Ping ini cukup panjang. Ia mulai dari pengalaman pribadinya tentang pertanyaan-pertanyaan dari lingkungan sosial sekitar yang terus menekan, "Mau sampai kapan begini terus, Ping?" Pengalaman tersebut ia langsung kaitkan dengan sejumlah teori terutama tentang krisis identitas yang diangkat oleh psikolog Erik Eriksen. Krisis identitas ini, mengutip Eriksen, terutama disebabkan oleh desakan-desakan sosial dan ilusi-ilusi masa depan yang menyebabkan orang menjadi penuh kecemasan dan ketakutan. Hal ini, kata Ping, menyebabkan orang mempersiapkan masa tuanya secara berlebihan. Kemudian Ping juga mengangkat pemikiran Epikureanisme yang digagas Epikuros di masa Hellenisme. Kata Ping, "Epikuros memperkenalkan pemikiran etika yang membuat manusia tidak hanya lepas dari rasa takut akan mati, melainkan juga rasa takut akan hidup." Epikureanisme hampir seperti paham Hedonisme yang menekankan pentingnya kesenangan-kesenangan badani agar manusia jauh dari kecemasan dan kegundahan.

Lontaran-lontaran pemikiran yang diwacanakan oleh Ping tersebut disambut mula-mula oleh rasa setuju terhadap kenyataan bahwa memang ada semacam godaan-godaan tentang bagaimana sebaiknya masa tua itu dihadapi. Ada yang mengharuskan masa tua dihadapi dengan punya pasangan tetap, rumah, mobil, tabungan melimpah, hingga anak-anak yang soleh. Hal demikian, diamini Liky, membuat manusia kerap melupakan hakikatnya sebagai homo ludens alias makhluk bermain. "Orang terus menerus terorientasi ke masa depan disebabkan oleh cara berpikir modern yang kerap berpijak pada kepastian. Padahal seyogianya manusia ini mungkin menikmati kesekarangan dengan bermain-main dengannya," kata Liky.

Kecemasan tentang masa tua juga, kata Benny, selain disebabkan oleh ilusi masa depan, juga dipengaruhi oleh perasaan akan perubahan lingkungan sekitar. Misalnya, dulu ada perasaan baik-baik saja jika minta perhatian lebih dari orangtua, sekarang merasa tidak lagi seperti. Dulu memandang jadi orang dewasa itu sesuatu yang mengagumkan, sekarang ada perasaan iri terhadap anak-anak karena terlihat tidak punya masalah sebanyak orang dewasa. Perubahan-perubahan semacam ini menciptakan kondisi yang membuat orang tidak gembira menyambut masa tuanya. Freddy juga menambahkan ada kecemasan bahwa menjadi tua berarti tidak sanggup lagi aktif secara fisik.

Atas kecemasan-kecemasan ini, Ping membukakan solusi dengan mengutip pepatah ars longa, vita brevis: seni itu panjang, hidup itu singkat. "Orang-orang berkarya agar namanya terpatri lebih lama dari hidupnya. Hal tersebut yang menyebabkan ada orang-orang tua tertentu yang justru di masa tuanya lebih mengabdikan diri pada manusia. Berbeda dari sebagian lainnya yang memilih untuk menjauhi dunia dan berserah diri pada kehidupan nanti. Meski demikian, keduanya mungkin punya tujuan sama: Menghindarkan diri dari kecemasan di masa tua," demikian tutup Ping.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

1 comment:

Yogi Marsahala said...

Masa tua adalah saat manusia mengalami penurunan kekuatan fisik dan mental dan mendekati fase kematian, komentar juga ya ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin