20.5.13

Klab Filsafat Tobucil: Mengapa Harus Tanpa dan Ada Masalah?

Senin, 30 Mei 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu berkumpul lagi dengan Nugraha Sugiarta sebagai pemasalahnya. Seperti lumrahnya Nunu, panggilan akrabnya, ia selalu mengawali pemaparannya dengan sebuah cerita yang cukup panjang mengenai pengalaman pribadinya. Meski panjang, namun peserta terlihat menyimak oleh sebab cara penuturan Nunu yang jenaka. Tiga puluh menit pemaparan pun menjadi tidak terasa.
Nunu tengah bercerita.
Apa sesungguhnya yang diceritakan Nunu? Ia menceritakan tentang proses perkuliahan ia selama S2. Katanya, "Biayanya cukup mahal, tapi saya bersikeras untuk tidak dibantu oleh orangtua meski dalam hal ini bapak saya memaksa untuk membantu." Berkali-kali ditolak oleh Nunu, akhirnya pada suatu ketika ia menyerah dan menerimanya juga. Namun, ungkap Nunu, ia tetap berjuang mengembalikan uang yang pernah diberikan bapaknya tersebut dengan cara mencicil. Sampai akhirnya si bapak berkata seperti ini pada Nunu, "Nu, kamu tuh suka mempersulit yang sudah mudah. Dari kecil loh kamu suka cari-cari masalah yang tadinya tidak ada." Nunu kemudian menutup pemaparannya dengan lontaran: Silakan diskusikan saja.

Diskusi kemudian langsung disambut dengan pertanyaan Ping: Apakah masalah itu ada yang konkrit, atau cuma ada dalam pikiran saja? Liky kemudian giliran memaparkan tentang pengalaman pribadinya. Ia bercerita, "Sekarang saya ini sedang tidak punya pekerjaan dan saya merasa senang-senang aja. Tapi ternyata hal ini masalah buat ibu saya. Ia terus mendesak saya untuk bekerja, sehingga pada akhirnya desakan ibu menjadi masalah tersendiri buat saya." Kalimat terakhir itu disambut tawa para peserta lainnya. Kemudian juga timbul pertanyaan-pertanyaan dalam forum: Apakah masalah yang konkrit sesungguhnya cuma masalah ekonomi? Apakah masalah-masalah sesungguhnya lebih banyak disebabkan oleh lingkungan sosial?

Kemudian Nino memaparkan kekesalannya pada motivasi-motivasi dari Mario Teguh yang kebanyakan mengubah mindset masalah jadi tantangan. Namun Ijal tidak melihat hal tersebut sebagai masalah, justru bagus ketika mindset masalah diubah menjadi tantangan sehingga baunya menjadi optimistik. Menanggapi hal ini, Dini bertanya pada Ijal, "Memang menurutmu apa bedanya masalah dengan tantangan?" Ijal kemudian mencoba menalar, "Masalah itu sepertinya kemungkinan-kemungkinan menyelesaikannya belum terlalu jelas, sedangkan tantangan itu sudah terlihat bagaimana proses untuk membereskannya, tinggal dijalani saja." Kape kemudian, yang hampir sepanjang diskusi terlihat diam, akhirnya angkat bicara menyoal masalah ini, "Menurut saya, manusia itu tidak suka mencari masalah, hanya saja orang yang mencari masalah itu adalah mereka yang seringkali bosan dengan hidupnya. Misal, orang-orang yang bermain game."

Kemudian diskusi masuk ke soal agama. Pernah dalam suatu kelas di Extension Course Filsafat Unpar, Pak Bambang Sugiharto mengungkapkan tentang masalah dunia hari ini yang lebih mengarah pada lingkungan. Seorang bapak kemudian berkata, "Dalam agama, jikapun dunia ini hancur, maka tidak ada masalah apapun dengannya. Hancur ya hancur saja." Demikian mungkin saja bahwa agama ini punya ajaran tentang bagaimana mengomodifikasi sehingga segala sesuatu masalah itu tidak lain merupakan kehendak-Nya saja yang mesti diterima. "Pada titik ini, agama memberikan suatu obat bagi kegelisahan eksistensi manusia," demikian ujar Ijal. Lantas, kembali dipertanyakan, jadi apa masalah sesungguhnya bagi manusia? Ekonomi-kah? Kematian-kah? Desakan sosial-kah? Atau, pikiran-kah?




Google Twitter FaceBook

1 comment:

irmasitikhodijah said...

saya pengen berkunjung ke tobucil, tapi bukan karna saya suka baca justru karna saya kurang minat baca. boleh ikut gabung ga? wawasan saya 0 besar. saya ingin bergabung

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin