1.5.13

Penutupan Kelas Public Speaking Angkatan VII

Selasa, 30 April 2013

Kelas Public Speaking asuhan Theoresia Rumthe mencapai puncaknya Selasa kemarin. Seperti biasanya -seperti enam angkatan sebelumnya-, mereka punya tradisi untuk menunjukkan hasil belajar mereka selama delapan pertemuan dengan berbicara depan publik tentang suatu tema yang sudah direncanakan sebelumnya.  Kali ini, empat peserta membicarakan tentang penemu di hadapan tiga orang juri dan sekitar enam orang audiens.

Anne mempresentasikan Thomas Alva Edison.
Juri di angkatan ketujuh ini adalah Mbak Elin (lulusan angkatan sebelumnya plus manajer Tobucil), Dhiko (Lulusan angkatan sebelumnya) dan Mas Adi (wartawan dan tutor Kelas Menulis Feature). Mereka bertiga secara serius menyimak berturut-turut presentasi dari Anne, Sarah, Ibu Hilda, dan Dian. Mereka mempresentasikan Thomas Alva Edison, kalkulus, Alexander Graham Bell, dan Archimedes. Keempat presentasi tersebut berlangsung relatif lancar.

Dewan juri.
Keempatnya seolah memikirkan betul bagaimana cara menutup presentasinya dengan sebaris kalimat manis. Anne misalnya, ia menutup presentasinya tentang penemu lampu, Edison, dengan kalimat, "Jika kita memberi untuk kehidupan, maka nanti kehidupan pun akan memberi untuk kita." Atau Dian berkata, "Jika kita menemukan sesuatu, kira-kira kita akan berkata apa ya?" pada presentasinya mengenai Archimedes. Hanya saja ketika Sarah membicarakan kalkulus, yang dibahas adalah pertentangan diantara penemu-penemu yang mengklaim telah menemukan kalkulus. Ini tentu saja dikarenakan kalkulus bukanlah nama penemu, melainkan sebuah temuan. Meski demikian, Sarah sebagai peserta termuda tetap tampil baik. Sedangkan Ibu Hilda, dalam mempresentasikan Alexander Graham Bell, penemu telepon, memulainya dengan prolog yang "mencekam". Ibu Hilda menceritakan tentang kejadian ketika anaknya mengalami tabrakan dan dirawat di RS Santo Yusuf. Kesimpulan dari prolog ini adalah, "Bayangkan jika dalam hidup manusia tidak ada telepon."

Ibu Hilda, terbaik kedua (kiri).
Setelah keempatnya diberi kesempatan, sekarang tiba saatnya tiga juri melakukan perembukan untuk menentukan dua orang yang dinilai lebih baik. Setelah melalui rapat di ruang belakang Tobucil, mereka pun kembali ke beranda untuk sebelumnya menyampaikan beberapa komentar dan masukan terlebih dahulu. Mas Adi misalnya, ia menekankan pentingnya persiapan sebelum melakukan public speaking agar apa yang disampaikan menjadi lebih tertata. Setelah itu, Mbak Elin berdiri untuk membacakan nama-nama pemenang. Dengan diiringi suara drum artifisial, Mbak Elin menyebut Ibu Hilda sebagai terbaik kedua dan Dian sebagai terbaik pertama. Tidak lupa Mbak Elin menitip pesan, "Ini bukan berarti ada yang menang ada yang kalah. Pada kenyataannya semuanya juga baik." Setelah itu seluruh peserta, juri, dan -juga tentu saja- sang tutor, Mbak Theo berfoto bersama. Kelas Public Speaking Angkatan Tujuh pun berakhir dalam suasana hangat dan ceria.

Syarif Maulana

Foto bersama Kelas Public Speaking Angkatan VII.
Yang terbaik menurut penilaian juri adalah Dian (Duduk, kedua dari kiri).


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin