5.6.13

Klab Filsafat Tobucil: Membahas Film Dokumenter Time (2005)

Senin, 4 Juni 2013

Sesuai apa yang disepakati sebelumnya, Klab Filsafat Tobucil sore itu memilih untuk menonton sebuah film dokumenter dari BBC yang berjudul Time (2005). Film yang terdiri dari empat seri tersebut bercerita tentang segala hal mengenai waktu yang dibahas secara saintifik oleh Michio Kaku.

Peserta diskusi memilih menyaksikan yang nomor dua karena beberapa diantaranya seperti Liky dan Irwan sudah menonton yang seri pertama. Seri kedua sendiri bercerita tentang hubungan waktu dan kematian. Dipaparkan oleh Michio Kaku bagaimana sesungguhnya orang-orang yang relatif sudah tua akan menyadari bahwa waktu di sekelilingnya semakin cepat, sedangkan orang-orang muda menyadari sekelilingnya adalah lambat. Hal tersebut diketahui lewat eksperimen dari Michio sendiri. Orang tua dan orang muda diminta secara instingtif menebak kapan persisnya waktu satu menit itu. Ternyata orang tua lebih sering terlambat dalam menentukan waktu satu menit, sedangkan orang muda umumnya lebih cepat. 

Dalam film tersebut juga dilakukan eksperimen mengenai bagaimana perbedaan seleksi memori antara orang tua dan orang muda. Orang muda dapat mengenali gambar-gambar dengan mudah, baik yang terasosiasikan positif maupun negatif. Orang tua? Ternyata mereka secara umum hanya mengenali gambar-gambar yang terasosiasikan secara positif. Artinya, makin tua, seseorang makin meninggalkan perasaan-perasaan yang mengganggu mereka dan memilih untuk mengingat hal-hal yang menyenangkan saja. Pengalaman mereka akan waktu hanya yang di dalamnya terkandung sesuatu yang positif. 

Lantas, Michio memberi wacana tentang elixir of life. Semacam minuman agar sel-sel tidak cepat tua dan dipercayai bisa membuat orang awet muda. Rata-rata orang tua ingin minum ramuan semacam itu agar dirinya memuda kembali -meskipun ada juga yang khawatir ia malah hidup sendiri karena orang-orang dekatnya semakin lama semakin berkurang karena kematian-. Sedangkan orang muda, karena rata-rata belum memikirkan kematian, mereka memilih untuk tidak meminumnya. 

Film tersebut, yang berdurasi kurang dari satu jam, melengkapi pemahaman para peserta yang beberapa pertemuan sebelumnya pernah membahas soal masa tua dan kematian. Bedanya, dalam film Time ini, keresahan-keresahan dasariah manusia (kata Heidegger) akan masa tua dan kematiannya dikaji secara ilmiah. Peserta sendiri, ketika ditanya apakah ingin meminum elixir of life, mereka serentak menjawab mau. Kata Ping, "Kalau bosan hidup, gampang, kita bisa bunuh diri," katanya sembari tertawa. Pembahasan seputar film ini pun tidak terlalu panjang karena pertama, Tobucil menjelang tutup. Kedua, pembahasan mengenai baik masa tua maupun kematian pernah dibahas dan masih segar dalam ingatan. Apa yang dibawa pulang oleh para peserta pada hari itu adalah suatu kesadaran bahwa ada orang yang begitu serius melihat problem eksistensial dalam kacamata saintifik. Meski ada beberapa hal yang sanggup diobjektivikasi, namun tetap kematian menyisakan misteri.




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin