21.6.13

Klab Filsafat Tobucil: Wabah Bisnis

Senin, 10 Juni 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu membahas satu topik yang cukup keseharian yakni mengenai bisnis. Untuk kesempatan kali ini, Arden Swadjaja, yang biasa membahas topik-topik sufistik, menjadi narasumbernya. Peserta yang hadir cukup banyak, ada sekitar dua belas orang -termasuk diantaranya kedatangan tiga orang yang "tidak biasa" yakni Rio, Yuda, dan Gin-Gin-. 

Arden memulainya dengan mengaitkan antara bisnis dan istilah asalinya: busyness. Namun penting untuk diketahui bahwa istilah bisnis ini baru tercipta setelah manusia menciptakan uang -ketika era barter, istilah ini sama sekali belum dikenal-. Untuk apa sesungguhnya manusia menciptakan uang? Arden melanjutkan paparannya. Tentu saja, katanya, agar manusia mempunyai standar dalam tukar menukar. Meski demikian, harus diakui bahwa standar itu sendiri ditentukan oleh kekuasaan. Pertanyaan yang lebih penting: Siapa yang menentukan nilai uang? Apakah nilai uang yang kita pegang sesuai dengan nilai intrinsiknya?

Rio kemudian mengemukakan pendapatnya sekaligus bertanya. Katanya, jika uang logam, mungkin nilainya memang persis dengan uang yang tertulis. Tapi bagaimana dengan uang kertas? "Emas," jawab Arden. "Emas adalah satuan pengukur yang entah kenapa ia tidak bisa diganggu gugat." Maka itu, lanjut Arden, uang kertas secara intrinsik tetap punya acuan karena misalnya, harga emas yang satu juta, itu dipecah jadi sepuluh lembar uang seratus ribu dengan nilai yang jika ditotal menjadi satu juta.

Kemudian pembahasan menjadi berlanjut pada soal emas. Mengapa emas bisa menjadi acuan yang tidak bisa diganggu gugat di seluruh dunia? Kenapa tidak berlian, misalnya? Hamal menjawab, karena daya tahannya terhadap serangan senyawa-senyawa kimia. Emas juga tidak tercampur dengan senyawa lain, ia murni berdiri atas namanya sendiri. Berlian? Meski harganya sangat mahal, namun tetap fluktuatif. Harganya bisa sangat bervariasi tergantung dari banyak faktor mulai dari apakah ada cacat, potongan, karat, atau apapun. Sedangkan emas ia harganya kerap berlaku secara internasional.

Lantas, mengapa tidak ada pembicaraan sesuai dengan topiknya yakni "wabah bisnis"? Demikianlah memang itu yang terjadi. Diskusi menjadi berbelok arah membicarakan uang itu sendiri. Namun pembicaraan di KFT sore itu menjadi cukup menarik karena pada akhirnya forum mendiskusikan sesuatu yang lebih "konkrit" dan pragmatis setelah sebelumnya lebih banyak berkutat di wilayah ontologi dan metafisis -seperti bicara waktu dan kematian-. Satrio kemudian mengingatkan, sebagai penutup, bahwa kelangkaan menjadi salah satu penyebab nilai alat tukar menjadi mahal -bukan cuma soal emas-. Ia merujuk pada situasi Yunani kuna ketika emas begitu berlimpah, maka garam lah yang menjadi alat tukar. Mengapa? Karena garam pada masa itu adalah satu-satunya hal yang sulit diperoleh di Yunani.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin