27.6.13

Rangsangan Menulis melalui “Image dan Teks”


Dua puluh menit keterlambatan tak menghambat antusias para peserta klab menulis, bahkan klab ini pun kedatangan dua wajah baru, yaitu Ana dan Arga. Jumat (21/6) sore itu, suguhan Sophan Ajie tentang “Image dan Teks” melatih dan mengeksplorasi ide-ide liar para peserta klab untuk menulis.

Rangsangan pertama yang diberikan berupa dua gambar tengkorak yang berlainan satu sama lain. Para peserta diminta untuk memvisulisasikannya melalui teks. Alhasil, teks yang dibuat oleh para peserta beragam. “Aku terkejut dihadapan kertas rontgen yang kupegang. Tengkorak wajahnya patah tak karuan, di sana-sini. Lucunya adalah rusak pada sebagiannya saja. Ya, hanya sebelah kanan, sedangkan tengkorak wajah sebelah kiri masih sempurna seutuhnya, bagaikan lingkaran yang ditarik garis lurus pada bagian tengahnya: sebelah kanan diarsir dengan sembarang, sedangkan yang kiri hanya putih polos saja, kata Wimba yang secara apik menggambarkan kedua tengkorak tersebut. Ada lagi, Arga menvisualisasikan gambar tersebut secara realistis sebagai tengkorak yang dilihat pada saat ini. Lain dengan Belia, yang mendisasosiasilan tengkorak sebagai benda yang cute. Keberagaman itu oleh Sophan Ajie dijelaskan sebagai pengaruh cara membaca image yang sangat tidak terbatas dan acak.

Selain itu, pengajar klab ini pun menambahkan ada teknik lain untuk mempermudah penulis menvisualisasikan image ke dalam teks secara partikular dengan menggunakan teknik semiotika. Ada tiga macam teknik semiotika yang dapat digunakan oleh para penulis. Pertama, teknik iconic, yang dipakai penulis dengan memilih apa yang mewakili sebuah objek tersebut, semisal bulan yang mewakili malam. Teknik ini juga sangat membantu penulis dalam pembuatan setting dan penokohan. Kedua, teknik menunjukkan arahan yang memberikan kesan-kesan pada karya seorang penulis, yaitu teknik simbol. Teknik yang terakhir adalah indeks, yang digunakan untuk mengidentifikasi ciri-ciri sebuah objek sehingga memberikan penegasan terhadap objek tersebut.

Rangsangan demi rangsangan berikan kepada para peserta. Sesudah kedua gambar tengkorak, rangsangan beralih dengan menvisualkan sebuah teks yang dibacakan oleh Fajar. Kemudian, ada image lain yang diberikan berupa gambar seorang pria metroseksual dan para perempuan yang berpose genit. “How do you feel today?” pun menjadi penutup klab sebelum para peserta kembali ke rumahnya masing-masing.  

Mengingatkan para peserta terkait image dan teks, Sophan Ajie berpesan bahwa, di era kini, menulis merupakan tantangan tersendiri. “Sampai sekarang masyarakat sudah beralih dari media teks ke media visual. Mau tidak mau minat teks semakin berkurang. Orang semakin malas membaca teks atau buku. Buku-buku segementasinya menjadi terbatas, berbeda dengan film yang segmentasinya luas”, sambung pengajar klab menulis ini. Oleh karena itu, perjuangan penulis dalam menulis sebuah karya seperti pahlawan tanpa tanda jasa.

Bandung, 25 Juni 2013
Firdhan Aria Wijaya



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin