6.7.13

Dari Bocah Lima Tahun sampai Pria Dingin dan Wanita Perayu

Kala itu, Jumat (28/6), para peserta Klab Menulis Angkatan XIV diajak berkelana menyelusuri imajinasinya masing-masing. Mereka diminta meng-aku-kan diri sebagai bocah berusia lima tahun yang sedang berada di kebun binatang. Tak mudah memang, apalagi menuangkannya langsung ke dalam tulisan. Rizsky mencoba menarasikannya dengan diksi yang rumit, tetapi belum memrepresentasikan seorang bocah lima tahun. Begitu pun Nia, yang kewalahan dengan diksi “menatapku tajam”, yang sudah tentu jarang dipakai oleh bocah berusia lima tahun. Hanya Belia dan Ana yang menyusun pikiran bocah berusia lima tahun dengan sederhana dan lugu.



Kata Mama, sekarang aku lagi ada di kebun binatang. Terus, yang sekarang aku lihat di sana ada banyak, banyak binatang. Aku engga tahu itu apa, tapi aku seneng bisa lihat mereka. Di sana ada binatang yang bisa terbang. Ada binatang yang bisa mengaum. Rasanya seneng aku berada di sini. Seperti menemukan hal-hal baru.” – Ana –

Aku senyum-senyum saat Mama bilang kita mau ke kebun binatang hari ini, eh aku jadi inget sama binatang yang loreng-loreng dan kayak kucing. Soalnya aku suka banget kucing. Pas sampai di kebun binatang, aku udah nanya-nanya kapan kita sampe liat binatang itu.” – Belia –

Sophan Ajie mengatakan hal tersebut diakibatkan oleh teknik narasi. “Menulis itu engga perlu jago dalam ide, itu nomor dua, tetapi yang urgent adalah bagaimana cara mengomunikasikannya. Sebab jika cara mengomunikasikannya basi, ide yang bagus itu hilang, nothing”, jelasnya lagi. Mengacu pada GĂ©rard Genette, seorang literary theorist berkebangsaan Perancis, penulis dalam bernarasi memposisikan dirinya sebagai yang mahatahu (x writer/ektradiegetik), dirinya sendiri (intradiegetik), atau seseorang yang membicarakan sesuatu dalam cerita, contoh suara dalam hati (metadiegetik). Masing-masing konsep naratologi Genette memiliki kegunaan tersendiri sesuai keinginan penulis. Ekstradiegetik mampu mendeskripsikan secara seksama suatu tempat, perwatakan, atau peristiwa. Lain dengan intragenetik yang memberikan wawasan sebuah suatu tokoh secara luas. Oleh karena itu, sangat mudah memposisikan diri sebagai narator (ektradiegetik), tetapi sulit memposisikan diri sebagai aku (intradiegetik) karena perlunya penggalian mendalam terhadap berbagai tokoh yang akan perankan.

Untuk penggalian sebagai aku tersebut, Sophan Ajie masih menguji imajinasi para peserta ke dalam beberapa grup. Tersaji sebuah gambar seorang wanita dan pria dewasa yang duduk saling berdekatan. Ketiga grup yang terdiri dari 2–3 orang ini memilih salah satu tokoh yang ada pada gambar itu, lalu menuliskannya. Hasilnya, cukup memuaskan. Para peserta kini mampu membuka jalan pikiran wanita dan pria tersebut. Namun, yang paling menonjol adalah Wimba dan Nia. Wimba mampu meng-aku-kan dirinya sebagai pria yang dingin yang tak mudah dirayu oleh wanita tersebut, sedangkan Nia dengan jujur dan liar mampu meng-aku-kan dirinya sebagai wanita penggoda yang menghalalkan segala cara demi menaklukan pria tersebut tanpa mempedulikan tatanan norma.


Sebagai penutup, Sophan Ajie, menjelaskan konsep naratologi Genette ini dapat digunakan secara bersamaan dalam sebuah karya. “Penulis yang mahir mampu bermain ekstradiegetik, intradiegetik, metadiegetik, atau kombinasi dari konsep diegenetik tersebut. Penulis bisa menjadi siapa saja”, tambahnya.

Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin