6.7.13

Klab Filsafat Tobucil: Barbar dalam Keseharian

Senin, 1 Juli 2013

Seperti biasanya, Klab Filsafat Tobucil selalu mengunakan jam karetnya ketika akan memulai sebuah diskusi. Bertepatan dengan awal masuknya bulan Juli, pada jam 18.00 KFT kedatangan tamu seorang mahasiswa antropologi UNPAD Jatinangor yang membawakan tema diskusi mengenai ‘barbar dalam Keseharian’. Pada mulanya, -mahasiswa tersebut yang bernama- Benny agak sedikit kebingungan dalam memulai diskusi di KFT. Mengapa? dikarenakan apa yang ingin dipermasalahkan bukanlah mengenai konsep "barbar" itu sendiri, melainkan tentang tradisi salah satu suku yang menurut Benny bisa dikatakan sangat ‘mengerikan’, namun seiring berjalannya dengan waktu kata barbar menjadi kata yang tepat untuk merangkum ‘kengerian’ tersebut. 

Benny bercerita tentang penelitian seorang antropolog yang meneliti tradisi dan kebudayaan salah satu suku. Semasa penelitian, sang antropolog menemukan ada tradisi ‘tersembunyi’ dalam masyarakat tersebut yang bisa dikatakan di luar akal sehat serta bisa dikatakan tidak manusiawi. Bermula dari cerita itu, Benny memaparkan bahwa apa yang dikatakanya sebagai barbar merujuk kepada adanya tradisi yang di luar akal sehat dan tidak manusiawi, Namun di satu sisi masyarakat yang ada di dalam menanggapi hal-hal tersebut adalah suatu kewajaran saja. Perenungan Benny akan hal-hal barbar ini mengiring teman-teman peserta diskusi merujuk kepada sejarah istilah "barbar" itu sendiri. 

Menurut Liky, istilah barbar pada mulanya digunakan oleh kekaisaran Roma untuk menyebut bangsa diluar kekaisarannya seperti halnya bangsa Skandinavia, Turk dan sebagainya. Barbar sendiri, papar Liki, merupakan kata lain dari ‘tidak beradab’. Setelah itu, Kape mengutarakan pendapatnya bahwa perilaku barbar sepertinya dimiliki setiap suku bangsa entah itu dalam skala kecil seperti individu bahkan komunal. Jika apa yang dikatakan Liky tersebut merujuk pada lahirnya kata barbar yang diartikan sebagai tidak beradab maka bangsa Roma pun bisa dikatakan memiliki sisi barbar-nya sendiri. Buktinya? Keberadaan Colosseum yang isinya adalah pertempuran manusia dengan manusia hingga mati. Hal tersebut bisa dikatakan sebagai perilaku barbar. 

Namun di satu sisi apakah yang dikatakan sebagai barbar atau tidak beradab ini bisa dikatakan benar-benar tidak beradab menurut sang pelaku atau hanya kita saja yang menganggap hal itu adalah perilaku barbar?Pertanyaan tersebut sekiranya membuat peserta diskusi serius memikirkanya. Benny memaparkan bahwa apa yang dilakukan oleh suku tersebut sebagai tradisi bagi dirinya sendiri bukanlah hal yang mengerikan atau tidak beradab, mungkin kata Benny jika salah seorang dari suku tersebut ditanyai mengenai tradisi sukunya, mungkin ia menjawab bahwa hal itu tak mengerikan dan tidak barbar. Dari paparan Benny tersebut, Maltje menambahkan bahwa ia pernah mendengar tradisi salah satu suku yang bisa dianggap mengerikan namun jika ditelusuri nilai falsafahnya apa yang dilakukan tersebut memiliki nilai-nilai luhur. Jadi mungkin saja kita menganggap ngeri perilaku-perilaku tersebut sebagai barbar dan tidak beradab dikarenakan kita tak mengetahui nilai-nilai filosofisnya. 

Diskusi berlanjut, kembali pada apa yang sudah digariskan oleh tema yakni barbar dalam keseharian. Rudy menganggap bahwa dalam keseharian, setiap individu pernah mengalami keadaan dimana pikiran dan tubuh tidak dapat dikendalikan. Dalam situasi tersebut, perilaku-perilaku tidak beradab atau barbar sendiri muncul. Rudy mencontohkan seperti halnya ketika ia sedang merajut dengan santainya, tiba-tiba saja benang yang menguntai untuk dirajut mengalami kekusutan yang parah. Disaat itulah entah mengapa tiba-tiba Rudy membanting benangnya ke arah gelas hingga pecah. Rudy menuturkan bahwa apa yang dialaminya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih beradab bahkan apa yang dialaminya adalah masalah yang sangat sepele, namun di satu sisi Rudy mengungkapkan bahwa ekspresi tersebut bisa dikatakan sebagai tanda adanya kebebasan dalam diri. Perilaku barbar atau tidak beradab sekiranya bisa menjadi penanda adanya kebebasan dalam diri atau bisa juga karena adanya kejenuhan individu terhadap aturan-aturan yang berlaku, lanjut Satrio. Banyak sekiranya hal-hal yang tidak beradab di sekeliling kita. Namun pertanyaannya, dimana letak atau batas antara beradab dan tidak beradab, barbar atau tidak barbar tersebut? Dan apakah kuasa disekitar kita yang menjadi penentu kesemuanya itu?

Rudy Rinaldi
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin