11.7.13

Lain dari yang Lain


Sophan Ajie absen. Pun Wimba dan Nadhira, yang keduanya merupakan peserta Klab Menulis XIV, mau tak mau harus merelakan pertemuan keempat mereka. Namun, itu semua tak menyurutkan semarak klab Jumat (5/7) sore itu.

Fransiskus Pujianto hadir  –menggantikan kekosongan Sophan Ajie– memberikan Klab Menulis nuansa lain. Setelah perkenalan singkat,  kelima peserta yang hadir diminta menguraikan pendapat mereka masing-masing mengenai tema yang diusung untuk pembuatan karya akhir. Tema local genius ternyata masih mengguratkan tanda tanya di benak para peserta. Tak kehabisan akal, pria ini memberikan pemahaman pada para peserta dengan pendekatan lain.
Saya seakan bernostalgia. Ingatan saya pun melayang pada masa-masa mengikuti klab menulis. Mengeluarkan kertas selembar tanpa tahu untuk apa. Lalu, pria yang disapa Pak Puji pun meminta kami untuk menggambarkan apa yang ada di benak kami. Setelah 10 detik berlalu, gambar yang saya buat dipindahtangankan untuk digambar oleh rekan sebelah saya. Begitu seterusnya, hingga gambar itu kembali ke tangan saya. Hal serupa pun terjadi kembali di Angkatan IV. Bedanya, mereka diminta untuk menggambarkan local genius menurut kaca mata mereka.

Ada gelak tawa. Ada raut keheranan. Ada juga yang kebingungan. Begitulah ekspresi para peserta. Setelah dua putaran, gambar yang mereka buat kembali ke tangan masing-masing. "Kemudian buat sinopsis cerita dari gambar yang sudah ada", pinta Fransiskus Pujianto. Tentu mereka menerka-nerka harus menulis keseluruhan gambar yang telah  diterima. Hasilnya, kurang begitu memuaskan. Para peserta masih terjebak oleh prolog cerita sehingga kesulitan membikin sebuah sinopsis. "Sebuah sinopsis merupakan rangkaian dari ringkasan cerita. Begitu luasnya sehingga sinopsis membantu penulis mengungkapkan alur cerita keseluruhan, penokohan siapa dan bagaimana wataknya, hingga tema ceita tersebut", beber pria tersebut pada para peserta. Ia pun menambahkan pentingnya menyisipkan sebuah dialog atau kalimat langsung yang membuat sebuah sinopsis atau pun sebuah karya berupa cerita pendek nampak lebih hidup.

Gambar-gambar tersebut ditujukan untuk membuka pikiran seseorang mengenai suatu hal. Apa yang dipikirkan oleh diri sendiri belum tentu sama dengan orang lain. Oleh karena itu, pesan Fransiskus Pujianto, seorang penulis harus bisa membuka pikirannya sendiri dan melihat sisi lain yang tak dilihat oleh orang lain pada umumnya. Mengambil sudut pandang yang berbeda.
Saya kira perkataan Pak Puji merupakan sebuah penutup. Tak disangka, ia meminta saya angkat bicara mengenai kesan saya selama berada di klab menulis. Agak sedikit kaget, saya pun kembali mengurai cerita-cerita yang saya alami di Klab Menulis Angkatan XI. Dimulai dengan keengganan saya untuk menulis. Sesi-sesi yang saya nikmati, tetapi tidak dengan latihan menulisnya. Nyali yang terkadang terpacu dan terkadang menciut ketika melihat rekan saya mengoreskan tulisan lebih baik daripada saya. Namun, segenap keberanian itu justru timbul saat menjelang sidang karya. Karya itu pun akhirnya lahir dari ruang lain diri saya sendiri. "Jangan pernah takut untuk menulis! Menulislah! Biarkan semua mengalir. Sesudah karya itu rampung, ada perasaan plong yang sulit digambarkan. Plong!", ujar saya sendiri. Dan itu pun menjadi penutup yang lain dari pertemuan-pertemuan Klab Menulis Angkatan XIV sebelumnya.
Bandung, 11 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin