31.7.13

Panggung Cerita Pendek Angkatan #14


Pertemuan rutin Angkatan XIV Jumat sore sirna sudah. Rabu (24/7) lalu menjadi penentuan bagi ke delapan peserta untuk unjuk gigi cerita pendek (short story) mereka. Selama kurun itu, karya mereka akan dikritisi oleh pengajar setia klab, Sophan Ajie dan Fransiskus Pujianto. Belum lagi, sang penulis Satu Masa di Cielo: The Chocolate Stories, Nugraha Sugiarta,  hadir sebagai juri tamu yang siap memanaskan suasana sidang karya. Tak pelak, rona wajah tegang dan tenang bergantian menyelimuti para peserta.
  
Sebagai role model
Apa jadinya ketika seorang bocah tak mengenal televisi? Kira-kira begitulah yang digambarkan Tombak Hologram Sira karya Riszky. Kritik satire-nya yang mengkritik teknologi yang menggerus daya imajinasi dan permainan tradisional anak-anak bangsa kita. Karya ini pula terinsiprasi dari larik puisi Sapardi Djoko Damono, “Tuan, jangan kau ganggu permainku ini.” (dalam puisi yang berjudul Di Tangan Anak-anak)

Namun, sayang, Tombak Hologram Sira belum menunjukkan konflik nyata para tokohnya. Ketiga juri sepakat cerita pendek Riszky membutuhkan penambahan beberapa adegan sehingga fokus ceritanya menjadi jelas. Sebagai penampil pertama, Riszky memberikan kesan dan contoh bagi peserta lainnya. Tentu saja peserta lainnya yang memperhatikan Riszky menyiapkan berbagai stategi untuk penampilannya masing-masing.

Terkecoh
Setelah Riszky, peserta lain yang membuat takjub para juri adalah Nadhira dan Nia. Nadhira, gadis remaja Sekolah Menegah Pertama ini, menjagokan karyanya yang berjudul Kalung dari Daun Singkong. Karyanya menceritakan perjuangan gadis cilik-tomboi yang terobsesi dengan sebuah kalung yang terbuat dari daun singkong. Kesederhanaan cerita dan pesan moral yang ditampilkan begitu arif sehingga para juri terkecoh karya Nadhira dibuat dalam kurun waktu yang lama. Sophan Ajie berkata, “Nadhira kamu itu nyebelin banget! Dalam waktu tiga jam bisa ngehasilin karya yang baik dan layak untuk dikirim ke redaksi surat kabar...”

Lain dengan Nia, yang tampil pada urutan ketujuh. Selain pembuatannya yang singkat,  semua juri pun terkecoh pada tokoh aku yang dibikin oleh Nia ini. “Saya kira perempuan penghibur, eh ternyata salah kira...”, ujar Nugraha Sugiarta. Penggalan cerita pendeknya mampu membingungkan para pembaca: Sebut saja namaku Kartini…/Seharusnya aku tinggal di hutan, bukan di jalan/Seharusnya pisang, mangga dan semangka bisa kudapat dangan gratis pemberian sang alam tapi sekarang aku harus susah payah membelinya dengan tarian, lompatan, dan berbagai aktrasiku/Seharusnya senyumanku manis tapi sekarang senyumku hilang tertutup kabut hitam polusi.

Ya, Menari di Atas Pelangi menghadirkan sosok monyet sebagai tokoh utama. Penulis sendiri lewat cerita pendeknya mengungkapkan kegeramannya melihat monyet-monyet yang bekerja paksa di jalanan. Walaupun penggunaan tata tulis yang masih tergolong berantakan, kekuatan cerita yang humanis dari sosok aku membuat para pembaca terenyuh.

Fokus cerita
Jangan bermain-main dengan kembang api, berbahaya! Maraknya kembang api di bulan Ramadan sudah menjadi tradisi. Melalui Senyuman Kembang Api, Fajar mencoba men-aku-kan dirinya sebagai kembang api dan melihat polimek yang terjadi di sekitarnya. Kritik juri sangat tajam mengenai cerita Fajar. Adanya dua fokus cerita dan hilangnya kolerasi antartokoh menyebabkan pesan yang disampaikan Fajar terlalu bercabang.

Hal yang sama terjadi pada Ana. Fokus cerita Sakit Jiwa dan Cinta masih kabur. Terinsiprasi dari pengalaman temannya, Ana berusaha mati-matian menunjukkan bahwa seseorang yang gila pun masih dapat merasakan apa itu cinta. Namun, Fransiskus Pujianto masih merasa greget bentuk cinta yang lain tersebut belum ditata dengan apik oleh Ana dalam ceritanya tersebut.

Totalitas
Berbeda dengan peserta lain, Pak Pri membutuhkan waktu yang tak sebentar dalam pembuatan cerita pendeknya. Kegigihan Pak Pri mebuahkan hasil cerita pendek setebal 35 halaman. Mengisahkan lika-liku pelik rumah tangga dan kesabaran seorang istri, Hatiku Bukan Pualam diapresiasi baik oleh ketiga juri. Di balik deskripsi yang kental, real dan detail, karya Pak Pri menurut para juri belum memainkan rasa bahasa sehingga membuat karya ini lebih hidup.

Bentuk totalitas lain diperlihatkan oleh Wimba melalui kolaborasi kemampuan observasi yang cukup dalam dan ide cerita yang baik. Berlatar sebuah perkampungan di Aceh, Senja di Sebuah Gampong memperlihatkan bagaimana kearifan lokal warganya untuk melindungi habitat asli gajah aceh yang terancam punah. Karyanya menunjukkan gimik-gimik yang pas sehingga Sophan Ajie melirik dan menantang Wimba untuk menuliskan naskah drama. Akan tetapi, semua juri menilai perlu adanya penambahan dialek khas Aceh yang tak diperlihatkan dalam karyanya tersebut.

Akhir kata
Karya terakhir datang dari Belia. Mojang yang kreatif ini menyelipkan percakapan antartokoh dengan multibahasa. Karya menceritakan gadis yang dalam tempo kurang dari satu jam merasakan jatuh cinta pada lelaki yang baru ditemuinya sebentar. Gaya berbahasa Belia dalam karyanya,  Salah, amat populer memberikan warna tersendiri di Klab Menulis Angkatan XIV. Bahkan Sophan Ajie pun berkomentar, “Karya Belia ini manis, sehingga sudah terlihat segmentasi pasarnya: anak muda zaman sekarang…”

Di akhir sidang, para juri memberikan pesan kepada para peserta. Pesan Fransiskus Pujianto, “Jangan berhenti menulis!”, sangat mengena dan bermakna dalam. Tak hanya itu, kritik halus mengenai tingkah sebagian besar para peserta yang menulis kepepet di akhir tenggat waktu disampaikan pula oleh Nugraha Sugiarta. “Mood memang salah satu faktor utama dalam menulis. Akan tetapi, pengalaman mengajarkan saya bahwa menulis juga merupakan masalah ruang waktu juga. Seiringnya proses, menulis dapat dilakukan di manapun dan kapanpun”, ujarnya pada peserta. Sophan Ajie pun sudah tentu sangat puas dan bangga melihat anak didiknya kini mampu melahirkan sebuah cerita pendek dari hati dan tangannya masing-masing.

Tinggal menunggu, siapakah satu di antara mereka yang meraih predikat terbaik?

Bandung, 30 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin