24.7.13

Percikan Animasi Bahasa

Menit menjelang berbuka puasa menjadi pembuka pertemuan kelima Klab Menulis Angkatan XIV pada Jumat (12/7). Sophan Ajie, lelaki parasnya sudah tak asing, kembali hadir. Spontan sapanya tertuju pada "karya akhir" masing-masing peserta. Tanda bahwa sidang karya hanya tinggal berjarak beberapa minggu lagi.

Hanya dua peserta yang mencoba merampungkan karyanya. Lainnya, masih bergelut dengan ide-ide dan tak tergoreskan dalam tulisan. Aneka sebab dan reaksi mencuat dari bibir para peserta. Ada yang masih membutuhkan kejelasan mengenai tema, seperti Fajar. Luapan curhat tak tertahankan dari Belia pun dijadikan alasan karyanya mandeg. Seakan tak mau kalah, yang karyanya sudah ada pun ikut berkesah. "Sudah jadi karyanya. Akan tetapi, saya bingung dengan pembuatan dialog atau kalimat langsung seperti apa", keluh Pak Pri.

Sophan Ajie dengan bijaknya mendiskusikan kebuntuan dan hambatan yang dihadapi para peserta. "Take a time. Luangkan waktu dan beri ruang pada benak kita untuk berimajinasi", responnya pada kegelisahan para peserta. Tambahnya lagi, "Persoalan menulis adalah persoalan berbahasa. Itu basic-nya. Ketika kita mau membuat karya tulis berarti kita harus mampu membuat animasi bahasa". Animasi bahasa merupakan kemampuan seseorang untuk merekonstruksi sebuah kata. Tanpa animasi bahasa itu, konteks berbahasa fiksi tak mampu lagi membongkar makna lain dari  kata atau objek.

Kata api salah satu contohnya. Konteks berbahasa sains –ditemukan dalam esai-esai ilmiah– menuntut api sebagai panas yang berasal dari sesuatu yang terbakar. Namun, di pihak lain, konteks berbahasa fiksi membongkar makna api ke dalam suatu disasosiasi. Api asmara dan api semangat merupakan salah satu hasil rekayasa kata yang memaknai api yang tak lagi panas, tetapi menjadikannya sebagai candu bagi manusia.

Selepas magrib dan santap buka puasa, diskusi klab kembali memanas. Karya Pak Pri dan Riskzy menjadi topik utama dalam diskusi. Kedua peserta tersebut sudah mampu menarasikan cerita. Namun, kelemahan kedua cerita tersebut tak dapat terelakkan. Plot cerita dalam karya Pak Pri terlalu padat, masih terdiri dari beberapa sub, sehingga belum dapat dikatakan sebagai cerita pendek yang berplot tunggal. Sedangkan, penokohan bocah 10 tahun yang diangkat Riskzy masih terlalu dangkal. Observasi mengenai psikologi dan kepribadian anak tersebut perlu diselaminya lebih dalam. Terlebih, kedua karya tersebut –entah ketidaksiapan dan kebingungan– dinilai belum menyentuh tema Klab Menulis Angkatan XIV.

Sesuai dengan kesepakatan, tema local genius ditukikkan dalam karya akhir para peserta. Istilah ini bermakna dalam dan tak jauh dari wacana kebudayaan kita yang beragam. "Kalau ngomongin local genius, api ini bukan lagi semata-mata ada dalam sebuah lilin. Api bisa dikatakan sebuah simbol kemenangan. Seperti di daerah saya, menjelang Lebaran, masyarakat tumpah untuk pawai obor, api kemenangan. Bukan lagi api yang disimbolkan sebagai neraka...", contoh Sophan Ajie yang menggunakan kata api lagi, terkait tema dan animasi bahasa.  Persis apa yang dikatakannya, dibutuhkan keberanian menganimasikan bahasa untuk menggali tema local genius.

Masih adakah local genius itu di sekitar Anda? Adakah api-api yang memercikkannya kembali dan mengobarkannya ke dalam sebuah cerita?


Bandung, 18 Juli 2013
Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin