14.9.13

Klab Filsafat Tobucil: Agama dan Katarsis Sosial

Rabu, 11 September 2013

Sore itu Klab Filsafat Tobucil berkumpul untuk mendiskusikan suatu topik yang dilontarkan oleh Liky Ardianto. Ketika agama seringkali diposisikan sebagai sesuatu yang menurut Marx dianggap sebagai candu bagi masyarakat, Liky dalam kesempatan ini berbalik membelanya, "Sebenarnya agama bisa dapat dilihat dari sudut pandang yang sebaliknya. Ia bisa jadi elemen paling vital dalam pelbagai perubahan sosial." 

Liky (tengah, kacamata) bercerita tentang contoh-contoh kasus agama sebagai katarsis sosial.
Liky memulainya dengan suatu pemaparan cukup panjang yang diambilnya dari novel Jepang berjudul Chinmoku. Dalam novel tersebut diceritakan tentang pemberontakan Shimabara yang merupakan perlawanan dari orang-orang Katolik di Jepang terhadap pemerintahan Shogun. Katolisisme, pada masa itu, dianggap berpihak kepada orang-orang kecil dan karenanya memberikan harapan bagi para petani miskin Jepang -yang kemudian banyak menjadi penganut Katolik-.  

Diskusi kemudian berlangsung cukup seru dengan berbagai pendapat yang merespon cerita dari Liky tadi. Kata Yunita, "Agama sebenarnya dapat bertahan dari segala tantangan kehidupan asal dia bersikap lentur dan fleksibel. Falsafah Kristen secara implisit menyinggung fleksibilitas tersebut dalam kalimat 'Yesus adalah sabda Allah yang hidup'." Kemudian Ping berkomentar panjang lebar tentang bagaimana melihat situasi di Indonesia, orang-orang sering mengaku beragama tapi tidak terlihat dalam tindak tanduk sosialnya. "Meskipun ajaran Islam mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi hal tersebut tidak menjadikan kota lebih bersih padahal sebagian besar orangnya menganut agama Islam." Sebaliknya, ujar Ping, Konfusianisme misalnya, sepertinya jauh lebih tereksplisitkan dalam perbuatan-perbuatan orang yang menganutnya.

Pendapat demi pendapat tentang agama sebagai katarsis perubahan sosial, ditanggapi Liky dengan satu sumber historis lagi. Sekarang Liky menyinggung soal teologi pembebasan di Amerika Latin yang digagas oleh Gustavo Gutierrez. Pendeta Katolik tersebut merasa terusik hatinya ketika melihat ketidakadilan dan penindasan atas kaum papa di negerinya. Ia akhirnya mencanangkan suatu kredo perjuangan berbasis agama yang diikuti oleh banyak negara seperti Brasil, Peru, El Salvador, dan Uruguay. Dalam Islam, lanjut Liky, juga ada yang semacam teologi pembebasan, yakni pemikiran Ali Syariati. "Syariati mengatakan tentang pentingnya Islam sebagai tonggak penegak keadilan dan strategi melawan kezaliman untuk membela kaum tertindas." 

Artinya, diskusi kemarin mencoba memberikan fakta-fakta yang dapat membalikkan pendapat Marx tentang agama sebagai penghambat perubahan sosial. Banyak perubahan-perubahan sosial besar justru mula-mula diinspirasi oleh agama.


Google Twitter FaceBook

1 comment:

Septiani Nurul said...

suasana diskusinya hommy sekali yah :D

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin