6.9.13

Klab Filsafat Tobucil: Rasa Keadilan

Rabu, 4 September 2013

Klab Filsafat Tobucil (KFT) hari itu kedatangan pemasalah yang datang dari Jakarta. Sebenarnya ini bukan untuk pertama kali ia hadir. Sekitar delapan bulan lalu, Indiah Karismatis juga pernah menyambangi KFT karena tertarik dengan diskusinya. Perbedaannya, dulu ia cukup duduk menjadi peserta saja, sedangkan kemarin, Indiah bersedia untuk menyajikan suatu masalah yang terkait dengan Rasa Keadilan.

Indiah Karismatis
Indiah, sebagai seorang lulusan fakultas hukum, membuka topiknya dengan suatu contoh kasus dari wilayah hukum. Ia memaparkan tentang kasus pembunuhan terhadap dua orang, oleh seseorang yang pada akhirnya dianggap mempunyai masalah kejiwaan. Secara hukum, orang yang mempunyai masalah kejiwaan dapat dibebaskan karena melakukan sesuatu di luar kehendaknya. Namun putusan dalam hal ini ternyata berbeda. Pembunuh tersebut akhirnya divonis bersalah karena kegilaan yang ia derita, oleh hakim, dianggap terjadi setelah ia melakukan pembunuhan. Artinya, ketika ia melakukan pembunuhan terhadap dua orang tersebut, ia diasumsikan sedang sadar-sesadar-sadarnya -dibuktikan misalnya dengan persiapan pembunuhan yang dilakukannya dengan sangat teliti-. Pertanyaan dari Indiah: Bagaimana seorang hakim bisa tahu bahwa yang ia putuskan adalah kebenaran yang objektif dan tak terbantahkan?

Sebelum menjawab hal tersebut, berbagai komentar dan pertanyaan timbul dari peserta atas kasus tersebut. Irwan meragukan apakah dengan persiapan pembunuhan yang teliti, seseorang bisa dengan otomatis dikatakan tidak gila? Ping juga bertanya, bagaimana jika seseorang itu menderita skizofrenia, bukankah kelainan jiwa semacam itu tetap bisa melakukan aktivitas-aktivitas sadar? Arden ikut menimpali dengan mengambil contoh dari film Silence of The Lambs yang tokoh antagonisnya, Hannibal Lecter, juga seorang yang mengalami gangguan jiwa. Meski demikian, Hannibal tetap sanggup untuk menata berbagai rencana pembunuhan dan kanibalisme secara detail dan teliti. 

Indiah kemudian menjawab bahwa pada akhirnya hakim mengambil putusan bersalah tersebut berdasarkan akibat yang ditimbulkannya, bukan sebab musababnya. Kenyataan bahwa si pembunuh sudah menghilangkan nyawa dua orang adalah fakta yang tak terbantahkan terlepas dari penyakit kegilaan apapun yang dideritanya. Satrio kemudian menambahkan bahwa putusan yang berdasarkan akibat ini juga terjadi pada kasus Adolf Eichmann, salah seorang tokoh di balik holocaust. Jika ditilik pada penyebabnya, Eichmann tidak bisa dianggap bersalah karena ia telah secara legal menjalankan ketetapan hukum di negaranya pada masa itu. Namun akibat yang ditimbulkannya itulah yang menjadi acuan untuk menyeretnya ke pengadilan. 

Seperti biasa, diskusi mengenai hukum selalu menjadi melebar karena pada akhirnya para peserta kerap penasaran dengan berbagai kasus hukum. Hamal kemudian bertanya soal tanah dan Freddy bertanya soal musik yang satu persatu tetap dijawab oleh Indiah meski sudah tidak terkait dengan masalah yang disebutkan di awal. 



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin