26.9.13

Klab Filsafat Tobucil: Vicky-isasi

Rabu, 25 September 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu memutuskan untuk membahas topik yang sedang marak dalam minggu-minggu terakhir ini. Yang dibahas adalah video Vicky Prasetyo yang menggunakan bahasa-bahasa rumit dalam konferensi pers terkait pertunangannya dengan Zaskia Gotik. Pada wawancara tersebut, Vicky terlihat menggunakan kata-kata seperti "29 my age", "konspirasi hati", "labilisasi ekonomi", dan "kudeta". Kata-kata tersebut dijadikan bahan tertawaan karena tampak tidak kontekstual dengan apa yang menjadi topik pembahasannya. Meski terlihat sebagai kasus yang sepele, namun pembicaraan kemarin berkembang menjadi pembicaraan tentang bahasa mulai dari fenomena praksis hingga filosofinya.


Yang menjadi hal untuk dipermasalahkan pertama kalinya adalah mengapa harus ada bahasa yang rumit? Sebagai contoh, bahasa yang dipakai dalam lingkungan akademik biasanya lebih "khusus" dan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Tanggapan kemudian datang dari Yuda yang mengatakan bahwa bahasa khusus itu diperlukan untuk menggambarkan fenomena yang lebih spesifik. Namun di sisi lain Yuda mengatakan bahwa cendekiawan yang baik adalah cendekiawan yang bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Liky menanggapi dengan melihat subjek yang mengatakannya. Katanya, "Ini karena kita tahu dia seorang Vicky yang tengah bertunangan dengan penyanyi dangdut, yang dianggap kurang pantas untuk punya akses terhadap bahasa-bahasa semacam itu. Sedangkan orang seperti Yasraf Amir Piliang yang kebetulan seorang cendekiawan, dengan istilah-istilah yang sama rumitnya, tetap dianggap pintar oleh publik." Hal senada juga diungkapkan oleh Difa.

Kemudian Maltje lebih menyoroti sisi ketika Vicky lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam videonya yang lain. Terlepas dari apakah secara gramatikal dia benar atau tidak, yang pasti, menurut Maltje, penggunaan bahasa Inggris yang tidak pada tempatnya menunjukkan inferioritas tersendiri di bawah sadarnya. Maltje memberi contoh ketika orangtuanya hendak membeli printer dan scanner ke suatu tempat, atas kebanggaannya pada bahasa Indonesia, ayah Maltje bertanya pada penjaga toko, "Ada pencetak dan pemindai?" Namun tidak ada satu orangpun yang mengerti kecuali jika diganti dengan printer dan scanner. Namun pembahasan menjadi lebih rumit ketika Jazzy membahas tentang kenyataan bahwa bahasa Indonesia sendiri banyak menyerap bahasa asing dan bahasa daerah. "Jika benar begitu, maka bahasa Indonesia pantas inferior karena tidak beridentitas," ujarnya.

Pembahasan berkembang menjadi apakah bahasa punya keterkaitan dengan tingkat intelektual suatu bangsa. Misalnya Russia punya banyak sekali panggilan untuk satu orang, terkait dengan tingkat kedekatannya (Dmitri atau Micha bisa jadi merujuk pada orang yang sama, tapi beda kedekatan membuatnya menjadi punya panggilan yang berbeda). Rata-rata bahasa daerah di Indonesia misalnya kita ketahui punya tingkatan bahasa tergantung pada siapa mereka berbicara (ada sapaan hormat dan sapaan akrab). Indonesia sendiri hal seperti itu masih sangat lemah dan membutuhkan perkembangan lebih banyak, sehingga mungkin bisa diasumsikan tingkat intelektualnya sendiri masih terus berkembang.

Diskusi ditutup dengan suatu kalimat dari Ludwig Wittgenstein: Kamera bisa memotret dunia tapi tidak bisa memotret kamera itu sendiri, peta bisa menggambarkan dunia tapi tidak bisa menggambarkan peta itu sendiri, bahasa bisa berbicara dunia tapi tidak bisa berbicara tentang bahasa itu sendiri.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin