14.11.13

“Komedi Sepahit Kopi” Diskusi Buku Kumpulan Reportase Satu Dekade oleh Zaky Yamani

Berita yang menarik tentu dibuat melalui proses yang berliku. Proses itu terkadang tidak mudah dan sangat menantang, sehingga ceritanya tidak kalah menariknya dari hasil reportase itu sendiri....

Begitulah sebuah kutipan yang tertera di belakang jilid buku yang didiskusikan kali ini. Komedi Sepahit Kopi memang berisikan kumpulan artikel bergaya feature namun lebih personal. Keluar dari gaya khas yang biasanya dibawakan oleh seorang reporter. Membawa hal yang ‘tidak biasa’ pastilah proses di baliknya pun tidak biasa. Itulah sebab banyak sekali teman-teman Tobucil berkumpul di beranda sore ini, Jumat 8 November 2013.

Diskusi dibuka dengan suara merdu pianika yang dibawakan oleh Siska kemudian disusul sapaan hangat dari Adi Marsiela sebagai pembawa acara. Setelah sedikit latar belakang buku ini diutarakan, Mas Zaky memberikan pengantar dalam diskusi dengan menjelaskan perkembangan pemikirannya mengenai permasalahan-permasalahan yang ia angkat di dalam bukunya. Banyak sekali kisah yang melatar-belakangi tulisan reportasenya. Seperti kisah keseharian seorang guru tunanetra yang ditolak mengikuti ujian pegawai negeri, bagaimana buruknya fasilitas maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah bagi masyarakat penyandang cacat, dan hal-hal lain yang tidak mudah orang sadari namun dekat dengan keseharian kita.

Terdapat sepuluh artikel dalam buku ini. Mari kita sebut saja sepuluh cerita. Berhubung hal-hal yang diangkat dalam buku ini adalah permasalahan yang begitu membumi. Bagaimanakah proses diskusi berlangsung? Berikut pemaparan singkat dari rasa penasaran teman-teman yang hadir.

kiri: Adi Marsiela, kanan: Zaky Yamani
Bagaimanakah proses pada diri Mas Zaky dalam menulis buku ini? Tentunya butuh niatan kuat untuk melawan arus media yang mainstream.

Banyak-banyak ngobrol saja dengan orang-orang di sekeliling. Dengan mengobrol dapat membuat saya lebih sensitif. Ketika saya sensitif akan timbul banyak pertanyaan dalam diri saya, dan menurut saya pertanyaan adalah modal bagi wartawan.

Apakah penyeleksian sepuluh cerita selama satu dekade dalam buku ini sepenuhnya diseleksi oleh Mas Zaky sendiri ataukah ada campur tangan orang lain? Editor misalnya.

Sepenuhnya saya seleksi sendiri, dan tidak menentukan tema tertentu juga. Hanya pengkoreksian bahasa dilakukan oleh istri saya.

Kenapa orang harus membaca buku ini?

Saya hanya ingin pembaca tahu dengan cara memberikan potrait lain yang terjadi dan itu terdapat di kota yang sama.

Apakah ada komunitas reporter yang khusus meliput permasalahan yang minor seperti yang Mas Zaky utarakan dalam buku ini?

Tidak ada, mengangkat permasalahan yang begini itu tergantung pada minat dan ketertarikan wartawan masing-masing.

Bagaimana prosesnya menuju keputusan untuk menuliskan liputan yang ‘tidak biasa’ ini? Apakah terdapat unsur tertentu ataukah hanya minat pribadi? Apakah tidak takut jika saja buku Mas Zaky ini tidak bisa diterbitkan karena terlalu ‘tidak biasa’?

Pertama-tama saya tidak mementingkan bahwa buku ini akan terbit atau tidak, yang penting tujuan saya terlaksana saja dulu. Memang pasti akan ada keterbatasan akses yang saya temui dalam prosesnya, namun bagaimana saya menyikapi keterbatasan akses tersebut itu lebih penting. Tidak ada unsur tertentu sih mungkin hanya minat. Bagi saya, apa yang dituliskan dalam buku itu adalah wajah berita.

Adakah tujuan lain dari terbitnya buku ini? Misalnya Mas Zaky berharap sebuah tindak lanjut pemerintah atau siapapun berupa tindakan sebagai respon dari cerita-cerita yang di paparkan dalam buku ini?

Untuk pemerintah sih tidak ada, saya sudah hopeless. Saya lebih mengharapkan bagian dari masyarakat biasa namun memiliki keberanian untuk bergerak. Walaupun tujuan saya tidak cenderung ke arah sana. Ada pembaca yang tahu dan paham juga itu sudah cukup.

Sebenarnya bagaimanakah batas subjektivitas dalam menulis berita itu?

Tergantung lokasi dan perusahaan pers-nya. Ada yang dibatasi oleh negara, ada yang dibatasi oleh perusahaan medianya saja. Walaupun sebenarnya negara bisa saja membatasi jalur-jalur subjektivitas dalam berita apabila suatu masalah berada di luar regulasi. Saya sih mengambil contoh dari seorang wartawan Amerika GlenGreenwald yang sangat berani dalam mengutarakan pemikirannya di dalam sebuah berita. Inginnya seperti dia, bisa menentukan penilaian benar atau salah dari wajah berita jika bukti-bukti memang lengkap.


Alunan lagu wajib versi pianika yang dibawakan oleh Siska menjadi penutup diskusi sore ini.
Bagi teman-teman yang penasaran dengan buku dan bagaimana uniknya gaya reportase sang penulis, silakan mampir ke Tobucil Jl.Aceh 56. Masih tersedia namun terbatas loh! J

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin