25.11.13

Penutupan yang Menjadi Awalan Bagi Peserta Public Speaking Angkatan 10

 Sudah satu bulan Kelas Public Speaking angkatan 10 ini menjalani masa-masa mentoring menyenang-kan bersama mba Theo. Hari ini kelima peserta kelas yang terdiri dari Rumi, Ari, Febri, Elan, dan Warkim wajib mengikuti final test sebagai bagian dari pembuktian mereka dalam ber-public speaking.

Dentuman beat boxing dari Elan menjadi tanda pembuka acara final test public speaking kali ini, dihadiri oleh mba Elin Bunda ARC dan Adi Marsiela sebagai dewan juri yang akan menilai penampilan mereka, dan tak lupa sang mentor tercinta Theoresia Rumthe.

Dalam berbicara di depan umum tentunya banyak sekali partikel yang menjadi pengaruh terhadap keberhasilan dalam menyampaikan sesuatu. Seperti gestur, intonasi, kejelasan vokal, ekspresi, kepercayaan diri, dan masih banyak lagi. Partikel-partikel itulah yang menjadi landasan penilaian juri dalam final test ini. Penampilan pertama diambil alih oleh Rumi, disusul oleh Warkim, lalu Ari, kemudian Elan, dan terakhir Febri. Walaupun membawakan tema yang sama sebagai bahan yang harus mereka sampaikan, namun warna yang terasa dalam penyampaian mereka sangatlah beragam.

dewan juri dan mentor
Setelah kelimanya tampil, dewan juri berdiskusi singkat dan memutuskan peserta favorit dalam kelas public speaking ini pada Ari, dan pemenang penampilan terbaik pada Elan. Walaupun pembawaan Ari sedikit panik, namun pada penampilannya ia unggul dalam intonasi dan kejelasan vokal, hal yang membuat nyaman bagi pendengarnya. Cerita yang Ari bawakan juga menarik meski konteks ceritanya kurang tersampaikan. Sedangkan Elan justru sebaliknya, ia dapat menyampaikan konteks dalam ceritanya tersampaikan dengan sempurna, hal itulah yang membuatnya menjadi peserta terbaik kelas public speaking angkatan 10 ini.

Selesai sudah periode angkatan 10. Walaupun begitu, bagi kelima peserta hal ini adalah sebuah awal bagi mereka. Berbagai pembelajaran yang mereka dapatkan tentunya akan berbeda-beda efeknya bagi masing-masing personal. Seperti apa perbedaannya? Berikut wawancara singkat dengan mereka.

Kesan apa yang tertinggal dalam diri kalian setelah mengikuti kelas public speaking ini?

Banyak sekali. Terutama kesadaran dalam seni berbicara. Ternyata kegiatan sederhana yang sering kita lakukan dalam keseharian itu tidaklah mudah jika ingin dilakukan dengan benar.

Apa yang kalian dapatkan setelah mengikuti kelas public speaking?

Rumi   : saya jadi bisa mengatasi kekurangan saya dalam berbicara. Dulu saya sulit mengatur nafas dan mengambil jeda ketika berbicara terutama presentasi, setelah mengikuti kelas ini saya jadi bisa mengambil langkah untuk mengatasi keterbatasan saya.
Warkim: sebuah kesadaran bahwa berbicara yang saya anggap sebagai hal yang kecil ternyata tidaklah sepele. Butuh persiapan dalam melakukannya. Berbicara kan juga tergantung kepada khalayak pendengar, entah itu teman-teman, orang tua, atau masyarakat umum, semuanya membutuhkan persiapan yang berbeda-beda.
Elan    : yah, selain ilmu dalam berbicara, saya juga mendapatkan teman-teman baru, proses belajar yang enak, dan tempat yang nyaman.
Ari    : lebih ke bagaimana teknik dalam berbicara sih, seperti macam-macam intonasi dalam bercerita contohnya smiling voice.
Febri   : Rasa percaya diri yang meningkat.

Selama satu bulan ini materi yang diajarkan oleh mba Theo kan berbeda-beda, menurut kalian materi yang mana yang menjadi favorit kalian?

Rumi     : materi cermin, dan spontanitas. Keren sekali, kita jadi bisa mengukur kemampuan diri kita yang sebenarnya. Tidak ada persiapan dan tema yang dipilih pun acak.
Warkim : semua materi favorit. Sebenarnya yang menjadikan materi kelas ini menyenangkan adalah cara penyampaian mba Theo yang asik.
Elan    : saat latihan vokal a,i,u,e,o dan tangtrill. Membuat saya sadar bahwa teknik berbicara itu ternyata tidak mudah dan banyak partikelnya.
Ari       : sama seperti Elan, saat latihan vokal. Saat itu saya jadi tahu ada jenis intonasi yang disebut smiling voice, keren sekali! Saat materi cermin juga seru.
Febri    : materi cermin! Kekonyolan yang timbul saat materi itu membuat kelas makin menarik.

Setelah mengikuti kelas ini, boleh dong kasih saran dan kritikannya sebagai masukan.

Cara penyampaian dalam memberikan materi sih tidak ada, sudah sangat enak dan asik. Paling itu aja sih, tantangan. Saat pembelajaran bagaimana jika kita dihadapkan pada pendengar umum langsung, bukan hanya teman-teman peserta kelas saja. Lalu kalau bisa peserta terbaik kelas angkatan pertama sampai angkatan saat ini berkumpul kembali untuk memperebutkan posisi yang terbaik dari yang terbaik, semacam lomba, pasti seru tuh!



Wah, terimakasih atas partisipasi kalian dalam kelas Public Speaking angkatan 10 ini ya. Semoga pengalaman ini menjadi awalan yang baik dalam seni berbicara bagi keseharian masing-masing. J

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin