14.9.14

Bincang-Bincang Novel "Bandar" bersama Zaky Yamani

Klab baca kali ini berlangsung di hari Sabtu 13 September 2014 dengan mendatangkan Kang Zaky Yamani untuk membincangkan karya novelnya yang berjudul “Bandar”.

Novel ini kental dengan nuansa Bandung. Penulis yang memang begitu mengenal Bandung, lahir dan dibesarkan di Bandung; juga profesi kesehariannya sebagai jurnalis memiliki data base Bandung dengan cukup lengkap untuk menjadikannya bahan tulisan.

Bertutur tentang kisah perjuangan sebuah keluarga tiga generasi dengan latar cerita masa paska kemerdekaan, saat bangkitnya gerakan Darul Islam khususnya di Garut Jawa Barat. Dibalut dengan (meminjam ungkapan Mas R.E. Hartanto dalam tulisan resensi blognya tentang novel ini) aksi laga dalam dunia preman dan mafia, penuh intrik dan kekerasan. Walau secara garis besar novel ini lebih bercerita tentang sebuah kisah tragedi.  

Berangkat dari gagasan untuk menggambarkan sesuatu tentang Bandung yang belum pernah atau jarang diungkap. Dengan bekal penulis yang lahir dan besar di lingkungan yang kental dengan sisi gelap dan keras kota Bandung, citra ruang Bandung yang dikenalnya dalam kehidupannya adalah citra ruang Bandung yang keras. Zaky menjadi saksi hidup yang merekam sebagian momen-momen kerasnya salah satu tekstur kehidupan Bandung.

Novel Bandar ingin menangkap realita yang dituangkan dalam cerita fiksi. Perlu proses sepuluh tahun (2002-2012) waktu yg dibutuhkan Zaky untuk menyusun naskah novel yang melibatkan kisah latar sejarah yang merentang sejak masa DI/TII, momen 1965, Orde Baru, hingga krisis ekonomi menjelang Orde Reformasi. Ada sosok Dewi dalam novel tokoh yang menjadi metafor, sosok imajiner Ibu Pertiwi yang mengalami  kehidupan sejak masa kemerdekaan dengan berbagai konflik. Melahirkan anak-anaknya dengan perilaku yang beringas, kasar, yang menjadi personifikasi Orde Baru yang tenang, makmur tetapi penuh dengan kekerasan. Ada juga tokoh generasi terakhir keluarga yang bernama Parlan, merupakan perwakilan generasi masa kini. Generasi yang tidak mau tahu atau yang buta sejarah panjang keluarga. Generasi yang ketika diwarisi sesuatu, generasi ini gamang, tidak tahu harus berbuat apa. Langkah yang diambil untuk masa depannya tidak berpijak pada apa pun kecuali imajinasi-imajinasi tentang apa yang dirasa lebih baik. Karenanya novel ini bercerita tentang seorang bapak (Gopar) yang menceritakan sejarah keluarganya tentang mengapa bisnis keluarganya itu harus diteruskan. Usaha yang bukan semata bisnis. Usaha yang menjadi akar di mana darah dan daging di mana sebuah individu dalam keluarga tumbuh. Sejarah panjang yang tidak tiba-tiba saja muncul. Ada jalan nasib yang diambil Sang Emak (Dewi) yang menentukan jalan hidup dua generasi setelahnya.

Menurut Zaky, konflik-konflik yang dituturkan oleh sejarah formal seringkali berbeda versi, memiliki rasa yang beda dengan apa yang dirasakan oleh orang biasa. Tokoh-tokoh dalam novel merupakan orang-orang biasa yang tidak terlibat dalam konflik politik secara langsung, tetapi mereka berada di antara konflik itu. Seperti dituturkan dalam novel bagaimana orang-orang biasa itu menyiasati situasi perbenturan antara kaum pemberontak dan tentara yang mewakili negara dan mereka terjepit di tengah-tengah.  Tentang bagaimana mereka harus bertahan hidup. Sebab sejarah selama ini hanya mengisahkan para tokoh besar dan abai untuk bisa mengisahkan kisah dari sisinya yang lain. Sejarah akan lebih mudah diapresiasi bila ditempatkan dalam format kisah, cerita karenanya.

Sebuah tulisan (dalam novel yang baik) merupakan bentuk tangkapan momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia. Sebab di sana melibatkan proses refleksi untuk bisa melahirkan sebuah kedalaman. Mengapresiasi sebuah karya novel, sastra, seni; secara umum mengenalkan dan membuka realita baru untuk kita tidak mudah memandang, menghakimi sesuatu secara hitam putih. Seorang Zaky Yamani dengan jiwa seorang jurnalisnya membawanya untuk berpihak pada mereka yang kalah oleh kehidupan. Bahwa ada proses panjang dalam hidup apa yang kita sebut seorang penjahat. Mungkin kita yang menjadi bagian dari lingkungan masyarakat turut terlibat membentuk diri mereka yang seperti itu. Bahwa tidak ada orang yang terlahir sebagai penjahat.  Penjahat itu diciptakan masyarakat dan budaya yang mengiringinya, ketidakadilan, serta sempitnya kesempatan untuk hidup layak.

Mencuplik pandangan Karl Marx tentang bagaimana peran seni (yang bisa teraplikasikan juga dalam karya tulis novel), bahwa fungsi sejati dari seni adalah kritik sosial. Seni seharusnya membuat orang memahami dengan cara yang lebih mendalam mengenai apa yang tidak beres, apa yang salah, dalam masyarakat di mana mereka tinggal, dan apa saja yang tidak beres dalam relasi mereka dengan masyarakat, dan apa yang salah dengan hidup mereka sendiri. Novel Bandar mengajak kita untuk terjun menghayati realita yang sedemikian. Kalau para filsuf selama ini sibuk menafsirkan dunia dengan berbagai macam cara, sebuah karya seni/sastra justru menjadi ujung tombak untuk bagaimana mengubah dunia karenanya. Semoga.
~ Ping





Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin