27.10.14

Terpuruk dan Bangkit

Renaisan adalah titik nol Eropa. Revolusi Perancis, Inggris, dan Jerman menjadi motor yang menggerakkan Eropa dalam percepatannya yang pesat. Jerman menjadi yang terdepan di Eropa dalam hal kemajuan di segala lininya dari bidang ekonomi, sains dan teknologi, pendidikan, hingga bidang industri. Padahal dalam sejarah, Jerman mengalami setidaknya dua kali keterpurukan di dua Perang Dunia. Teknologi, sistem ekonomi, sistem pendidikan, dan bidang industri hanyalah sebuah perangkat. Ada hal yang lebih hakiki yang membuat Jerman mampu bangkit dan menjadi nomor satu.
Seperti Jerman, ada Jepang yang mampu bangkit dari keterpurukan dalam. Selain keadaan terpuruk membuat manusia menjadi kreatif, jalinan kerja sama dan solidaritas masyarakat Jerman sangat kuat. Bangsa Jerman saat itu mengesampingkan kepentingan kelompok untuk hal yang lebih hakiki yaitu kepentingan bangsanya sendiri yang terpuruk dalam. Apa yang membuat jalinan itu begitu erat? Mungkin karena semua lapisan secara merata mengalami nasib yang sama, mereka dihadapkan oleh satu musuh besar bersama pula. Dan mengapa nasib sama itu bisa dialami seluruh masyarakat Jerman? Karena begitu dalamnya jurang keterpurukkan itu, dalam yang terdalam, pahit yang terpahit.
Bagimana dengan negeri Indonesia? Mungkin Indonesia belum pernah mengalami keterpurukan sebegitu dalam seperti di Jerman. Jaman kolonial Belanda, tidak semua lapisan masyarakat merasakan penderitaan, bahkan ada lapisan yang mengambil untung dengan situasi tersebut. Terlalu banyak elemen yang bersifat label di negeri ini yang lebih diutamakan. Unsur kesukuan, tradisi, agama, golongan yang kecenderungannya lebih rentan untuk menjadi faktor pemecahbelah daripada menjadi faktor pemersatu. Begitu mudahnya dipecahbelah, tergiur untuk hal-hal yang instan, hal-hal ini turut membentuk karakter manusia . Bisa jadi semua hal itu bisa dinafikan bila negeri ini mengalami terlebih dulu keterpurukan yang begitu dalam. Solidaritas di negeri ini lebih terjalin atas nama panji-panji golongan dan label, bukan solidaritas untuk selalu bisa membela yang  terlemah tanpa melihat label yang melekat.


Satu lagi mungkin yang membuat negara-negara maju menjadi maju, karena mereka tidak memiliki sumber daya alam yang cukup signifikan. Kemajuan negaranya lebih pada kemajuan sumber daya manusianya. Wilayah yang terberadakan sumber daya alam identik dengan konflik dan perebutan berbagai penjuru pihak. Wilayah yang biasanya selalu menjadi sengketa kepentingan. Dan ini dialami oleh beberapa negara di dunia ketiga termasuk Indonesia. Bangsa ini memang masih jauh dari urusan selesai dengan karakter dan sumber daya manusianya.
* refleksi dan liputan diskusi Klab Baca Minggu Sore 26 Oktober 2014
~ ping

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin